What If…

Bulan lalu ada berita duka, ninin nya anak-anak yakni ibunda tercinta dari suami tersayang berpulang.

Kami berempat sekaligus adik nomor 2 beserta kedua anaknya kala itu pulang ke Ciamis menengok Mamah dengan sedikit perasaan khawatir, karena beliau memang nyaris tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Sore itu saat kami sampai pun beliau duduk di ruang tengah seakan sudah menunggu kami dengan wajah sumringah. Seketika keyakinan beliau bisa sembuh langsung membuncah.

Hingga malam tiba kami semua masih bertukar cerita walau beliau lebih banyak tiduran, tapi melihat beliau masih bisa ke kamar mandi sendiri membuat kami nggak berpikir bahwa beliau nggak lama lagi akan pergi. Bahkan kurang dari satu jam sebelumnya, sekitar jam 12 malam, saya masih dengar beliau minta dibuatkan teh manis ke adik ipar. Beliau meninggal tepat hari Jumat 20 Feb 2015 sekitar jam 1 pagi dalam keadaan tidur dikelilingi anak mantu dan cucu-cucunya. Inalillahi wa inalillahi rojiuun, sampai kini masih nggak percaya secepat ini Allah SWT memanggilnya.

image

Kenangan terakhir enin bersama cucu2nya

Saat ditimpa musibah naluri kita sebagai manusia kadang berkata “andaikan…” meski sesungguhnya segala sesuatunya yang merupakan takdir takkan bisa dirubah kecuali atas kehendak Allah SWT. Berat memang kala orang itu berpulang dan tidak ada lagi yang bisa lakukan apalagi kita perbaiki. Bismillah, ikhlas.

Selamat jalan Mah, Insya Allah khusnul khotimah dan ditempatkan ke dalam golongan orang-orang mukmin.

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز، وإن أصابك شيء، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا، ولكن قل قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan.” – (HR. Muslim 2664)

[Review] Paddington

Mumpung masih anget, mau (belajar) aah bikin review film. Kebetulan belakangan lagi lumayan sering ajak anak-anak nonton, film keluarga tentunya. Sekalian ngebiasain Alika (almost 4 y.o) sama suasana nonton bioskop, makin kesini sukses sih bisa anteng nggak ngerengek minta pulang sampai film selesai. Walau kalo pas ada adegan berantem, sedih atau suara seram pasti langsung merangsek ke ayah/bunda 😀

Ok, let’s the review begin:

Alkisah pada suatu masa seorang penjelajah Inggris yang dalam suatu misi menemukan sebuah spesies baru nggak sengaja bertemu sebuah keluarga beruang yang terdiri Uncle Pastuzo, Aunt Lucy dan si keponakan beruang kecil di pedalaman Peru. Disamping segala perbedaan, si keluarga beruang dan si penjelajah bisa ‘saling beradaptasi’ dengan keunikan latar belakang spesies dan kebiasaan mereka masing-masing. Di akhir kunjungannya si penjelajah berucap, kapanpun mereka ke London mereka pasti akan diterima dengan baik layaknya rumah sendiri.

Keluarga itu jadi bisa menguasai bahasa inggris, menyukai dan bisa membuat selai jeruk, bahkan belajar sopan santun ala manusia.

Bertahun tahun hidup dalam kedamaian, kehidupan mereka berubah karena suatu peristiwa yang menyebabkan mereka kehilangan Uncle Pastuzo, membuat si beruang kecil terpaksa harus berpisah dengan Aunt Lucy dan menyelundupkan diri di sebuah kapal menuju London dengan harapan menemukan rumah.

Bersembunyi di kantong surat, ia terdampar di stasiun Paddington di mana ia bertemu keluarga Brown yang akhirnya karena membaca pesan di kalungnya yang tertulis “Please look after this bear, thank you” bersedia membantunya menemukan si penjelajah, dan juga memberinya nama Inggris: Paddington.

Apakah kemudian semuanya berjalan lancar buat Paddington di dunia yang sama sekali baru baginya? Ohoo.. Keseruan baru saja dimulai, dimana Paddington (tentunya) kesulitan beradaptasi karena perbedaan budaya, yang akhirnya membuat Mr. Brown ultimatum istrinya untuk segera kirim Paddington ke pihak berwenang.

Lalu gimana nasib Paddington?
Apa akhirnya dia bisa bertemu si penjelajah? Siapa pula Millicent yang tampak sangat tertarik dengan kedatangan Paddington ke London, apa kaitannya dengan si penjelajah?

Nah daripada dibilang spoiler, monggo nonton aja yaa.. 😀

image

dari worstpreviews.com, sayang nggak nemu poster yg lagi tayang di Indo

Film adaptasi dari buku fiksi anak-anak karya Michael Bond tahun 1958 yang berdurasi 95 menit ini diisi dengan berbagai emosi, ada lucu, sedih, haru dan bahagia.

Siap-siap juga terpukau sama ‘teknologi’ arsip museum yang mengingatkan kita sama film bertema sihir nan legendaris, Harry Potter.

Sebagai film keluarga agaknya memang lebih cocok menyasar anak yang (minimal) sudah duduk di bangku SD, karena banyak percakapan yang melibatkan emosi perasaan. Ada adegan flirting juga ketika Mr. Brown ‘terpaksa’ menyamar jadi perempuan dan digoda oleh keamanan museum. Juga ada kiss scene antara Mr. Brown dan istrinya. Belum lagi adegan Mrs. Bird tanding minum alkohol. Mungkin disini perlunya ortu menjelaskan soal beberapa adegan tersebut.

Tapi overall, film ini selain menghibur juga membawa pesan moral yang bagus. Khas film klasik komedi keluarga yang hangat. Bahwa dimanapun kita berada, dengan siapapun itu, kebaikan, kesopanan dan kesetaraan kepada sesama mahluk hidup tetap harus dijunjung tinggi.

Resolution Revolution

Sekali-kali mainstream aah, posting pertama di hari pertama tahun 2015. Biar kayak blogger beneran, gitu :p

Mau flash back sedikit soal setahun kemarin. Banyak sekali berkah Allah SWT buat keluarga kami. Baik yang berupa rejeki, keluarga yang baik, teman baru dan terutama kesehatan. Di tahun ini juga akhirnya kami kesampaian punya sesuatu yang udah diidamkan sejak lama. Alhamdulillah… Alhamdulillah.

Bersyukur banget masih dikasih umur, dikasih sehat dan dikasih kesempatan kumpul bareng keluarga tercinta di momen pergantian tahun ini. Biasanya memang cukup di rumah aja (baca: tidur, LOL) dan nggak pernah keluar atau bikin acara spesial. Tapi tahun ini mumpung masih liburan sekolah kami putusin nginep di rumah bulik saya, sekalian tiup lilin om nya anak-anak yang pas 31 Des genap 23 tahun. Wow, masih panjang perjalananmu Om!

Awal tahun sebenarnya selalu datang dengan perasaan yang nggak melulu happy sih. Tiap 1 Januari datang dengan kenyataan pahit bahwa orang yang paling penting dalam hidup saya nggak ada di sini.

Today would have been your 58th birthday, Bapak. It’s been 8 years and not a single day goes by without me thinking of you.

*al fatihah*

Gimana resolusi tahun lalu? Can’t say much, tapi yang jelas #menujulangsing mah bisa dibilang gagal 😀 *gimana mo langsing wong hobinya makan*
Jadi itu masih PR besar buat tahun ini. Cuma nggak mau ditulis sebagai resolusi ah, takut gak kesampaian dan bikin malu kalo ujungnya cuma jadi resolusi thok’ selama bertahun tahun 😝

• Lebih Rajin Nulis
Niatnya ngeblog kan supaya jadi media pencatatan milestone anak dan keluarga, tapi boleh juga dong saya nebeng nulis ocehan maupun pikiran nggak jelas di blog aja, paling nggak lebih produktif ketimbang ngerjain atau mikirin hal-hal yang nggak penting hehe.

• Lebih Hemat, Rajin Nabung dan Nambah RD
Tahun ini si kakak mau SD dan si adik masuk TK, kalo nggak pinter pinter ngatur anggaran keluarga gimana bisa ngebiayain cita cita ambil spesialisasi dokter anak kelak, ya kan?

• Renovasi Rumah
Ini cita cita yang tertunda lama, karena biayanya juga nggak sedikit. Kepingin mindahin kamar, besarin dapur, nambah ruang depan, nambah lantai atas, bla bla bla *lho kok banyak?*
Mudah2an tahun ini ada rejekinya. Aaamiin.

• Liburan
Kalo selama ini paling anak-anak seringnya diajak ke Bandung lagi.. Bandung lagi, pingin deh suatu saat ajak mereka liburan (agak lama) ke Yogya atau Malang. Semoga tahun ini kesampaian.

• Pengen Ibadah Lebih Baik
Nggak cuma sekadar sholat tepat waktu, kepingin rutin lagi puasa sunnah dan belajar mengaji yang baik dan benar.

• Belajar Ikhlas
Memberi tanpa mengungkit, memberi tanpa mempertanyakan. Disakiti tanpa balas memaki apalagi mendendam. Dan yang paling penting sih sebisa mungkin tetap menjaga hubungan baik, meski berat.

Segitu aja sih kayaknya, semoga tahun 2015 ini membawa banyak berkah dan kebahagian bagi kita dan orang2 yang ada di sekeliling kita yaa.

Have a wonderful years ahead, guys!

2014 in review

Tahun lalu sebenarnya bukan tahun yang produktif posting, but still.. Rasanya seneng juga dapat review dari WordPress ini 😀

Mudah-mudahan 2015 ini makin rajin ngeblognya, yaa. Yah at least once a month, eh.. every two weeks deh *ya elaaah (tetep) dikit amaaat*

———————

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 28,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 10 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.