Uji Nyali

.. pasang IUD. *pheww!*

Jadi setelah melalui dilema berkepanjangan dan menunda lebih dari satu setengah tahun dengan alasan belum berani belum haid lagi pasca melahirkan , akhirnya
25 November 2012 kemarin saya mantap memberanikan diri kembali ke obgyn untuk berkontrasepsi.

Jujur, saya cukup trauma dengan adegan ‘periksa dalam’ untuk cek bukaan saat proses melahirkan, makanya saya maju mundur milih kontrasepsi yang satu ini. Ngilu banget. Kenapa IUD? Karena kayaknya selain satu-satunya jenis kontrasepsi yang non hormonal (aman bagi ibu menyusui dan nggak bikin badan melar), ini juga terhitung murah. Iya dong, coba bandingin beli kondom atau pil selama 5 tahun, kayaknya tetap lebih murah IUD. Nggak bingung kalo kehabisan, lagi. Hehehe.

Eh tapi yang namanya alat perlindungan buatan manusia, nggak akan menjamin 100% melindung juga. True story, salah seorang temen saya tetap bisa hamil padahal sudah pasang IUD. Manusia boleh ikhtiar, tetap Tuhan yang maha berkehendak ya. Saya dan suami sih insya Allah mantap bin yakin cukup dua anak aja. Dan mudah2an IUD saya ini aman di tempatnya, dan yang paling penting tetap bekerja sebagaimana mestinya sesuai masa tugasnya 😀 *aamiin yaa Allah*

Jadi lah saat haid memasuki hari ke tiga (sesuai hasil browsing dan info sana-sini), saya ditemani suami dan anak2 tentunya, meluncur ke Eka Hospital – BSD. Kebetulan saat itu hari Minggu *FYI, dokter spesialis di sana tetap praktek bergantian di hari libur* jadi antrian dokter sepi dan untungnya giliran obgyn langganan saya yang stand by hari itu.

Begitu masuk ke ruang praktek dokter, konsul campur ngobrol sebentar *karena hampir dua tahun nggak balik karena seharusnya saya melahirkan Alika disana hehe*, lalu cek USG untuk tahu posisi rahim. Baru saya di minta ke ruangan kecil di sebelahnya yang merupakan ruangan tindakan. Duduk di kursi dengan paha terbuka yang ternyata kemudian itu kursi bisa di tinggiin otomatis supaya bisa se eye-level dokternya. Jreng. Jadi ceritanya saya harus ngangkang di depan muka dokter?!

Tegang? Udah pasti. Takut? Tentunya. Risih? Banget. Tapi ngebayangin daripada tiap bulan harus kebat-kebit takut kebobolan *emang gawang?*, it was worth doing.

Dan ternyata prosesnya nggak sehorror yang saya bayangin, saudara2! *sujud syukur*
Berkat inisiatif minta di ajak ngobrol dokternya *padahal harusnya dia kudu konsentrasi ya, hihi* bikin saya jadi lebih rileks, jadi proses pemasangan benda sekecil itu jadi nggak terlalu terasa. Nggak sampe 5 menit kelar. Ngilu udah pasti. Tapi ternyata nggak seberapa sih.

Total jenderal biaya sekitar 700 ribuan. Jasa dokter 260 ribu, USG sekitar 90 ribuan *cmiiw*, alat2 dan IUD nya sendiri kalo nggak salah sekitar 400 ribuan. Lupa persisnya karena lupa foto kuitansi dan keburu dikirim ke HR kantor suami untuk di reimburse.

Diminta dokter untuk kontrol kembali setelah seminggu, sebulan, 3 bulan, 6 bulan lalu setahun kemudian. Saya balik kontrol setelah seminggu, sebelumnya juga beraktifitas seperti biasa, mondar mandir anter jemput anak sekolah sambil gendong toddler 15 kg dan alhamdulillah nggak ada keluhan samsek. Hasil USG juga menunjukkan situasi aman terkendali, dia masih aman di tempatnya.

Sebulan setelah pasang, haid pertama datang. Ternyata bener seperti yang di bilang dokter dan banyak sumber kalo IUD bikin jumlah volume haid jadi lebih banyak dan periode haid jadi lebih panjang. Volume haid di hari pertama-kedua sedikit, agak kram juga tapi nggak parah dan nggak terlalu mengganggu. Baru deh di hari ke 3 sampai ke 5 terasa lagi banyak-banyaknya. Saya sampai harus ganti pembalut sampai 5-6x sehari. Itupun pakai yang night wing (minimal) 35cm. Biasanya lama haid cuma maksimal 5 hari udah bersih, kemarin itu genap jadi 7 hari.

Saya belum balik lagi ke dokter untuk kontrol karena so far baik dari saya maupun suami nggak ada keluhan. Insya Allah bulan depan nanti balik lagi untuk papsmear aja *ini kata dokter sebaiknya seminggu setelah haid* dan mudah2an hasilnya baik jadi bisa vaksin HPV sekalian 🙂 *yuk mari kumpulin recehan*

Jadi sekarang udah bisa bilang, “Pasang IUD? Siapa takuut” 😀

Advertisements

3 thoughts on “Uji Nyali

  1. Hai mba, kami dari Pinisi Edutainment Park. Boleh minta alamat emailnya mba? kami mau kirim undangan 🙂 alamat emailnya bisa dikirim lewat twitter @PinisiIndonesia
    Terima kasih

  2. Mbak Henny…salam kenal ^^
    entah kenapa tiba2 pengen komen =P.
    moga IUDnya cocok ya..
    saya salah satu yang gak cocok soalnya. sigh..
    tiwas uji nyali pas proses pasangnya,
    eh trus beberapa bulan setelah pake ngeflek mulu gak berhenti2..
    kata dokter iritasi.. hiks.. dilepas lagi deh. T_T

    • Haiiii, salam kenal jugaa.. *salaman*

      Ini udah berjalan 2 bulanan alhamdulillah so far nggak ada keluhan. Aamiin semoga cocok, dan berfungsi maksimal 😀

      Memang soal kontrasepsi itu cocok2an sih yaa, temenku pun ada yg katanya jadi puanjaaangg periode haidnya, trus keputihan pula. Jadi copot lg deh. Dirimu pake KB apa jadinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s