Trust Issues

“Trust is the easiest thing in the world to lose, and the hardest thing in the world to get back.” – R. Williams

Bisa dibilang saya termasuk tipe orang yang mudah percaya sama orang lain. Selama masuk akal, orang bilang apa ya percaya. Nggak mikir aneh-aneh. Apalagi saya selalu berusaha berbaik sangka pada orang lain, jadi biasanya saat timbul sedikit keraguan, saya mikir ah mungkin cuma perasaan saya aja. Dan celakanya, saya justru mengabaikan insting yang mengatakan kalau ada yang salah.

Contoh umumnya dan saya yakin hampir semua emak-emak pasti punya pengalaman serupa, udah beberapa kali punya pengalaman nggak enak sama mbak-mbak ART. Dari jaman masih jadi working mom, punya mbak baru cuma dua bulanan, bilang pamitnya cuma mau numpang nikah di Lampung dan bakal balik lagi, dudulnya saya percaya aja. Sudah di sana beberapa minggu saya hubungi lagi, katanya kehabisan ongkos jadi dia kerja dulu disana dan kalo bisa saya bantu kirim duit buat ongkosnya. Udah ngerasa ada yang salah disini. Curhat sama temen, baru sadar deh saya di kerjain. Untung nggak keburu kirim uang.

Lain lagi soal mbak ART lainnya, sempat sekitar setengah tahun ikut saya, keliatannya juga baik dan sayang Alea waktu itu. Minta di beliin hp karena mendadak rusak, kami belikan. Pamit pulang ke sukabumi sebulan sekali seperti biasa, and she never show up after since. Di telpon nggak di angkat, sms nggak dibalas.. *kok kayak lirik lagu ya?* Patah hati lagi deh.

Terakhir, dapat mbak ART pas usia kehamilan kedua jelang due date. Udah keburu girang karena merasa saat melahirkan kelak lebih tenang karena ada yang bantu jaga Alea di rumah (sambil di temani mama mertua). Nggak sengaja denger omongannya di telp sama cowoknya, saya baru tau kalo dia (ceritanya) mau nikah dalam waktu persis bersamaan saat saya melahirkan. Lhaa… jadi dia memang niatnya cuma kerja sebulan thok, nggak peduli di awal saya udah panjang kali lebar jelasin kalo saya udah mau melahirkan dengan kondisi di rumah cuma berdua aja sama anak karena suami di luar kota. Gitu deh, kecewa lagi.

Dalam pertemanan, beberapa kali juga kepercayaan saya di salahgunakan. Ya urusan janji, urusan uang juga. Paling apes sih soal omongan. Yang saya percaya dan bolak-balik di bantu malah ngejelekkin saya. Marah? Sebel? Sakit hati? Udah pasti. Tapi saya males buang waktu dan tenaga untuk ngomong frontal apalagi memperpanjang masalah ke yang bersangkutan. Kalo soal uang biasanya saya ikhlasin, kalo soal omongan saya coba nggak masukin ke hati. Teorinya begitu. I (maybe) forgive, but I will never forget.

Dalam segala bentuk hubungan manusia, kepercayaan itu nomor satu. Kalo udah percaya, komunikasi pun bisa lancar, hubungan sehat. Kalo udah hilang rasa percaya, cinta juga nggak cukup bikin segalanya bisa balik lagi. Jadi inget tetangga yang usir istrinya dari rumah begitu kepergok dia selingkuh sama tetangga beda blok, gak peduli dia akhirnya harus urus sendirian 3 anak yang masih kecil 😦

Di dunia maya juga nggak kalah heboh. Selama kurleb 3 tahunan ber-Twitter-ria udah beberapa kali denger beberapa kasus yang mencoreng nama baik kepercayaan. Pesanan teman yang sudah di bayar nggak kunjung datang berbulan-bulan, dipinjami uang nggak balik, ada pula customer yang nggak bayar teman saya yang seller nya padahal barang udah di tangan, and so on. Yang bikin sedih dan kecewa (bagi korbannya) ya tentu aja karena mereka merasa satu sama lain udah kenal lama (apalagi yang follow-follow an nggak cuma di twitter dan blog, tapi juga pernah ketemuan, dan sering berinteraksi via group BBM/WhatsApp tiap hari), dan (tadinya) yakin dia nggak mungkin kayak gitu. Rugi materi mungkin nggak seberapa, perasaan lukanya itu yang susah sembuh.

Pernah baca entah dimana, You cannot just trust anyone easily these days. Fake is becoming the new trend.

Sadly true.

Pelajaran demi pelajaran yang kayak gini jadi hikmah tersendiri buat saya, gimana saya harus bersikap sama orang. Kalo kata @UwiPasta, jangan pernah percaya 100% omongan orang yang bilang, “percaya deh gue nggak bakal ember kemana-mana kok..”, karena sesungguhnya dia lah yang harusnya nggak bisa di percaya 😀

Musti lebih hati-hati lagi share apapun dengan siapapun di mana pun. Percaya boleh, waspada tetap harus. Mau di dunia maya atau in real life, hari gini yang beneran mau berteman atau niat stalking cuma untuk cari keuntungan pribadi yang merugikan orang lain udah nyaris tipis bedanya. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat yang demikian 🙂

“Jangan remehkan kepercayaan yang diberi. Jika yang ‘diserahkan’ itu aib. Lindungi aib mereka sebagaimana anda ingin aib anda dilindungi mereka. Jika yang diserahkan itu harta, jujurlah dalam pelaksanaannya. Jika yang diserahkan itu hadiah, gunakanlah ke arah kebaikan. Selagi KEPERCAYAAN itu masih boleh dilindungi, WAJIB lah dirimu tidak memilih munafiq”

— dikutip dari sini

Advertisements

One thought on “Trust Issues

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s