Nasehat Suami Untuk Istri

Sebenarnya saya bukan termasuk tipe orang rumahan, saya jauh lebih suka beraktifitas di luar rumah. Menikmati status sebagai wanita bekerja nan mandiri, sekaligus ajang mengaktualisasikan diri dan bersosialisasi.

Tapi yang namanya hidup, tentunya nggak melulu lancar seperti jalan tol bukan?

Pas setelah kelar cuti melahirkan anak pertama, dilema pun dimulai. Masalahnya saya susah banget dapet pengasuh yang awet untuk Alea. Pernah suatu waktu Alea seharian saya titip ke tetangga, saking nggak tau musti minta tolong kemana lagi.

Mau ijin, kondisi nggak memungkinkan saat itu karena pekerjaan saya di kantor lagi dikejar deadline. Titip Alea di daycare dekat kantor kami berdua di bilangan Sudirman, biaya per harinya aja cukup mahal untuk ukuran kami waktu itu. Beberapa kali minta tolong mertua, tapi saat itu beliau sedang mudik. Lagipula nggak enak juga minta tolong jaga anak bayi sendirian aja, sedangkan beliau juga sudah cukup berumur.

Pekerjaan saya sebagai assisten produksi majalah kadang loadnya juga bikin stress dan nggak kenal waktu, apalagi kalo mendekati deadline dan mau naik cetak. Tengah malam pun masih mantau editing supaya hasilnya baik dan sesuai instruksi para boss. BB nggak bisa jauh dari tangan.

Kadang jadi sedih dan merasa bersalah juga sama Alea, waktunya quality time ibu dan anak pun masih terganggu urusan kantor. Saya beberapa kali kepikiran untuk resign, suami mendukung. Tapi saya selalu ragu-ragu. Hingga jelang setahun setelah Alea lahir, agenda resign itu kembali muncul saat lagi-lagi pengasuh Alea berhenti.

Saya sempat bingung harus gimana lagi. Di satu sisi saya merasa inilah saatnya saya menjadi orangtua sesungguhnya buat anak saya, memantau setiap perkembangannya, hadir menenangkan setiap tangisannya. Di lain sisi saya juga ingin berperan membantu keuangan keluarga.

Yang menguatkan saya kemudian adalah kata-kata suami kala itu..

“Jangan tukar yang sedikit itu dengan harta yang jauh lebih berharga. Mencari nafkah itu sudah kewajibanku, biarlah jadi urusanku. Yakin Allah akan cukupkan rizki untuk kita. Kamu cukup mensupport dengan menjaga anak kita sehingga aku bisa berangkat kerja dengan tenang, karena aku tahu dia ada di tangan terbaik. Ibunya sendiri.”

Atas ridho suami itulah, akhirnya saya mantap melayangkan surat pengunduran diri setelah itu. Mungkin jadi hari yang terindah, karena rasanya kayak seluruh beban terangkat dari dada. Keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Memang kami harus sedikit prihatin dan beradaptasi pada awalnya. Tapi terbukti kata-kata suami benar, Allah SWT pastikan rizki yang cukup bagi kami sekeluarga. Alhamdulillah kehidupan kami sekarang jauh lebih baik.

Ada kalanya saat rasa jenuh akan rutinitas domestik melanda, suami kembali menguatkan dengan kata kata yang menyejukkan, dan mengingatkan untuk berusaha ikhlas. Meski mungkin bukan secara materi, sedikit banyak saya tetap berperan atas keberhasilan pekerjaan suami di kantor. Dengan membantu menciptakan lingkungan kondusif di rumah supaya dia bisa fokus bekerja, memastikan anak-anak terpenuhi kebutuhannya terutama dari segi moril. Dan ini juga ibadah, bukan? 🙂

Seperti kutipan yang saya baca entah dimana, kita punya seumur hidup untuk mengejar mimpi, sedangkan mereka hanya jadi anak-anak sebentar saja.

image

Saya masih punya mimpi untuk bekerja lagi entah kapan, mungkin mau usaha kecil-kecilan atau jadi freelancer supaya masih bisa punya waktu luang untuk anak-anak. Doakan ya.

** Postingan ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam

*berdoa khusyuk semoga menang 😀

Advertisements

18 thoughts on “Nasehat Suami Untuk Istri

  1. Subhanallah, bahagia banget ya Mak.. berkaca-kaca nih bacanya, antara terharu dan iri.. :’)
    Sudah aku catat sebagai peserta, ya. Semoga menang 🙂

    • Makasi juga ya mak, berkat info giveaway mu akhirnya postingan ini hadir. Jadi self reminder juga untuk selalu bersyukur punya imam keluarga yang penuh tanggung jawab :’)

  2. Saya msh jauh dari yg bagus bagus di bilang di atas… buktinya msh sering dimarahin krn dianggap kurang dan gak bantu kesusahan istri… saya msh belajar ngerti utk jd suami yg Benar di hadapan Allah SWT.

  3. Wah dapet esai yang pas nih. Kebetulan istriku juga lagi galau untuk resign, namun dia ragu takut jadi kismin hehehe. Jujur, selama istri kerja, saya gak bisa konsen, kepikiran istri sama anak. Apalagi kita kerja beda kota, wah capek hati, fisik, bukannya irit malah makin boros ongkos. Dan yang utama, aku gak bisa fokus di pekerjaan dan usaha karena memikirkan keluarga yang jauh.

    Ijin share ke istri saya yah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s