Story of Us

image

Alkisah, pada suatu hari dalam hidup seorang gadis yang baik hati, tidak sombong, tapi jarang menabung, sore itu mendadak dapat undangan rapat sekaligus didaulat jadi panitia HUT kantor nya.

Dengan agak berat hati dan malu-malu karena masih jadi anak baru, dengan langkah sedikit berat bergabunglah dia dalam rapat yang diselenggarakan di gedung sebelah yang pada akhirnya mengubah hidupnya.

JRENG.

Disanalah dirinya pertama kali bertemu the future husband. Ehem.

Rapat berjalan lancar, walau sang gadis lebih banyak diam menyimak, dan sang pria yang belakangan diketahui berumur 8 tahun lebih tua darinya, sering bikin suasana rapat yang ada di jam rawan ngantuk itu jadi sedikit cair dengan joke-joke garingnya. Baru diketahui kemudian bahwasanya itu salah satu trik demi cari perhatian si gadis.

Rapat demi rapat berlalu, jelang acara puncak HUT pun mereka akur join forces dekor ruangan. Obrolan demi obrolan yang awalnya basa basi mengalir santai.

Sampai akhirnya puncak acara HUT pun tiba, pagi itu saat acara belum mulai dan persiapan udah selesai, sang gadis lagi asyik menelusuri daftar film yang lagi tayang hari itu di koran, sang pria yang dari pertama datang ternyata nggak lepas dari sisi sang gadis pun dengan santainya bilang,

“Mau nonton itu? Yuk?”, dengan ajakan yang antusiasnya kayak nyoba wahana baru di Dufan.

Eeeaaa.. si gadis melongo sama spontanitas sang pria, dan tersenyum bimbang.

Udah cerita belum kalo sebenernya si gadis udah punya pacar? Oh, belum ya. *dikepruk pembaca*
Hahaha.

Jadi singkat cerita, setelah melalui rayuan maut dan dorongan dari beberapa temen sekantor, si gadis setuju pulang dari situ mereka nonton. Iya, berdua aja. Cuma si gadis berusaha nggak ngasih harapan apa-apa. Nggak jadi jaim juga, biasa aja. Layaknya pergi sama sahabat cowok, seperti yang sudah sudah. Iya, ini cewek doyannya temenan sama cowok, nggak terlalu ribet katanya. Lagian seinget dia, dalam salah satu sesi obrolan, dia pernah menyebutkan kalo dia punya pacar meski lagi dalam masa hiatus *ini pacaran apa produksi film sih?*.
Cuma entah nggak denger, entah pura-pura nggak mau tahu.

Dari situ mereka berdua mulai sering terlibat obrolan santai, becanda sampe ngobrol serius. Ya chatting, ya telpon. Forward-forward email lucu. Si cowok rajin kirim lagu-lagu asik via email. Dari bertukar cerita remeh sampai berbagi mimpi. Nyambung banget.

Mendadak si cowok jadi rajin nyamperin ke lantai si cewek begitu jam pulang kantor, ngajak pulang bareng. Padahal yang satu rumahnya di Slipi, satunya di Ciputat. Lawan arah bin maksa banget. 😀

Suatu sore saat lagi nunggu bus di halte seberang kantor, tanpa disangka terlontar lah pertanyaan sakti itu. Kembali si gadis ingatkan kalo dia punya pacar, tapi si cowok bilang nggak peduli.

Saya sayang kamu dan niat saya serius. Saya nggak cuma mau pacaran, melainkan cari istri. I believe I can make you happy better than he do“, ucapnya dengan tingkat pede di kali dua ratus ribu.

Si gadis cuma diam. Dia minta waktu. Mencerna semuanya, memikirkan sendiri soal perasaan terdalamnya. Mencoba mengurai setiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kepala.

Malam itu si gadis nggak bisa tidur. Dia minta Tuhan pilihkan mana yang terbaik untuknya, mengadu lewat shalat istikharah. Nyaris tiap malam. Juga minta pendapat pada sahabat dan orang-orang terdekat. Termasuk sang pacar. Mereka akhirnya ribut hebat.

Setelah beberapa minggu, hubungannya dengan sang pacar yang sudah renggang jadi semakin renggang . Bukan cuma karena saat itu ditambah bumbu tidak percaya karena hadirnya si pihak ketiga, tapi makin hari makin terasa jelas perbedaan dan cara pandang satu sama lain. Si gadis percaya ini petunjuk dari Tuhan.

Akhirnya, tiba waktunya si gadis yakin dengan jawabannya, dia sampaikan keputusannya. Meski luka dan kecewa sampe sempat nantangin duel segala, akhirnya sang mantan pacar legowo mundur dengan teratur, menghormati pilihannya.

Tantangan tentunya nggak selesai sampai disitu. Ujian sebenarnya adalah mendapat restu dari kedua orang tua si gadis. Juga anggota keluarga yang lain, karena sejak kelas 6 SD sang gadis hidup nomaden bersama adik2 bapaknya. Yang paling berat adalah restu dari ibu tirinya yang terkenal blak-blakan, dan sang ayah yang terkesan kaku dan nggak banyak omong. Biarpun kerap dicuekin dan dijutekin sang camer, si cowok pantang menyerah.

Malam itu selepas antar si gadis ke rumah ortunya, tanpa sepengetahuan si gadis, dia nekat bicara empat mata ke sang ayah, membicarakan keinginannya melamar. Bapaknya sempat tertegun lama, mungkin shock anak gadisnya yang baru setahun lebih mencicipi dunia kerja, secepat itu dilamar orang. Tapi akhirnya beliau mengiyakan.

Setelah itu banyaaak banget drama keluarga yang mewarnai acara pra-lamaran dan resepsi keduanya. Si gadis sempat frustasi dan nggak yakin calon suaminya ini tahan sama ‘keunikan’ keluarganya. Tapi sekali lagi, cinta dan keseriusan membuktikan sebaliknya. 10 hari setelah ulang tahun si gadis ke 23, tepat tanggal 10 September 2005, lewat sebuah akad dan resepsi adat jawa nan sederhana mereka menikah.

Yang bikin terharu, sang mantan pacar sudi berbesar hati datang. Disalaminya pengantin pria, sambil tersenyum dia berkata,

“Selamat ya, tolong jaga dia baik-baik”

Then they hugged like a best friend. *lap air mata haru*

Seminggu setelahnya, dengan diantar keluarga keduanya, mereka resmi boyongan ke rumah kontrakkan. Memulai hidup baru sebagai partner seumur hidup. Dalam susah dan senang bersama. Berharap tua dan mati tetap saling mencinta. Menjadi pasangan di dunia dan akhirat. Belajar menjadi keluarga sakinah mawadah dan warrahmah.

And the real adventure is just about to begun..

image

Advertisements

5 thoughts on “Story of Us

  1. Gue selalu salut sama cowok kayak lakilo yang mepet terus meski tau gebetannya punya pacar. Soale zaman sekarang, udah jarang bok yang mau susah payah kayak gitu. Kalo menyitir kata laki gue “Ah buat apa maksain. Kayak nggak ada cewek lain aja”. Padahal kan buat kita, kayaknya berasa berharga banget ya direbutin. Meski yang ngerebutin sebenernya nggak masup kriteria, tapi tetep aja demen, hahahhaa.. *komen apaan sih ini buka2 aib sendiri*

    • Eh beneran lho, gue juga awalnya nggak demen, karena secara fisik gak memenuhi kriteria. You know lah what I mean, masalah tinggi badan ceu, hihi. A bit shallow, yes?

      Tapi karena keukeuh banget ngejarnya, klepek klepek deh 😀 terbukti sih penampilan nggak pengaruh, yang penting hati. Eciyeee..

  2. Pingback: Nge Blog, buat apa dan siapa? | Making Memories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s