A Weaning (And A Night Terror) Story

Akhir Februari kemarin, saya dan suami sepakat untuk mulai proses weaning alias menyapih Alika, yang akan berusia 2 tahun pas di tanggal 25 Maret. Kenapa harus sepakat sama suami? Karena eh, karena.. proses yang satu ini memang terasa jauuuuhh lebih mudah kala dijalani dengan kerjasama ketiga belah pihak. Saya, Alika, dan ayahnya.

Sepakat disini berarti berkomitmen penuh yah, jadi suami siaga bantu istri nenangin anak kala rewel kepingin ngASI tengah malam. Berarti rela akan hari-hari kurang tidur selama beberapa minggu ke depannya. Bantu menguatkan dan mijitin istri kala nyaris goyah nggak tega liat anak nangis-nangis. Apalagi selama hampir 2 tahun hidupnya, Alika selalu saya susui langsung dan nggak kenal susu ‘pabrikan’ selain UHT sejak umur 1 tahun.

Langkah pertama tentu aja ajak bicara baik-baik ke anaknya, bahwa dia sekarang sudah besar, nggak bisa lagi menyusu sama bunda. Ucapkan berulang-ulang tiap kali dia minta nyusu. Mengurangi frekuensi menyusu siang sih cukup gampang, banyak ajak main, lebih sering kasih cemilan, UHT dan porsi makan yang lebih banyak, nah menyapih sesi malam yang agak bikin sakit kepala.

Ucapan diatas nggak berlaku lagi kala dia ngantuk dan yang dia mau cuma nyusu sampe ketiduran kayak sebelum2nya. Ditawarin usap-usap punggung, minum susu UHT, digendong,… semua ditampik. Nangis bisa nggak berhenti-berhenti. Jambak-jambak rambut moment banget. Kalo udah gitu, bersyukur ada suami yang sigap bantu turun tangan. Sering kali bantu nenangin dan gendong sampe Alika capek dan akhirnya tidur.

Alhamdulillah proses weaning ‘cuma’ makan waktu kurang lebih dua mingguan.

OK, to be truth, weaning was quite easy, but what came after is hard 😦

Nyaris berbarengan dengan weaning yang hampir sukses, datanglah fase night terror yang kalo diinget-inget lagi, bikin saya dan suami frustasi. Gimana nggak, setiap tengah malam, out of nowhere, Alika kebangun nangis jerit2 nggak jelas dan butuh sekitar 2-3jam untuk bisa tenang dan mau tidur lagi. Pernah malah dalam suatu malam, bisa 2x dia kebangun dan nangis jerit-jerit dan kita semua clueless maunya apa. Saya sampe ikut nangis saking capek dan bingung musti gimana lagi, ayahnya sakit kepala karena berhari-hari kurang tidur. Alea pun ikut kebangun nangis liat adeknya nangis.

Nggak tau kebetulan atau gimana, dulu Alea pun ngalamin hal yang sama. Nggak lama kelar disapih di usia 25 bulan, tiap jam 12 malam sampai jam 3 pagi rewel tanpa sebab jelas. Mana waktu itu cuma berduaan. Suami jauh di Palembang, dan saya hamil 8 bulan.

Sama seperti kakaknya dulu, saya (dan suami) baca doa-doa pendek dan ayat kursi tiap dia rewel tengah malam, bawa ke tukang urut kalo2 ada bagian tubuhnya yang sakit atau keseleo, sampai akhirnya saya bawa ke seorang ustadzah di pesantren dekat rumah. Dibekali air putih yang sudah didoakan. Beberapa hari setelahnya, tepat seminggu jelang ulang tahunnya, baru akhirnya pola tidurnya normal lagi, Alika pules tidur sampai pagi. Alhamdulillah.

Entah deh karena ada sebab psikologis atau ‘ada yang ganggu’, saya cuma bisa bersyukur akhirnya masa itu terlewati. It was one of the hardest time on my breastfeeding journey.

Advertisements

2 thoughts on “A Weaning (And A Night Terror) Story

  1. haha… been there before.. stlh melahirkan dan menyusui,menyapih jg TERNYATA nggak segampang yg kita kira,ya. Alhamdulillah,si bontot kami skrg udh nggak nyusu lg. umurnya udh 2,5 thn. Dan belakangan ini lg di toilet training… dan drama2 pipis/pup di celanapun dimulai… 🙂
    oh,ya.. salam kenal mbak… *salaman* 🙂

    • Bener banget! Episode menyapih anak memang challenging ya, syukurlah akhirnya ‘lulus’ juga. Semangat yaa toilet trainingnya, disini pun lagi dalam fase yang sama 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s