Sewindu

Postingannya jadi berturut-turut bertema perayaan ya 😀

Tanggal 10 September tahun ini tepat menginjak usia 8 tahun pernikahan. Rasanya baru kemarin pagi deh nangis haru biru saat genggam tangan alm. Bapak waktu minta ijin menikah di hadapan penghulu.

Apa aja yang terasa beda di pernikahan usia segini?

Yang jelas masing-masing udah pasti jauh lebih matang emosi saya yang doyan pundung ini juga udah nggak se lebay dulu, kami yang sama-sama boros ini sekarang agak mikir berkali-kali lengkap dengan segala akibatnya kalo mau melakukan atau beli sesuatu, coba merancang hidup nggak cuma buat hari ini dan besok tapi juga jauuuh ke depan, juga berusaha fokus sama apa yang kita jalani/punya daripada musingin apa kata orang biar hidup tentram dan nggak makin ribet.

Menikah bukan cuma sekedar proses foto pre-wed, akad, resepsi di mana dengan budget berapa, tapi gimana menjalani hidup berdua (ditambah keluarga kedua belah pihak) selanjutnya. Waktu itu, akad nikah sekaligus resepsi kami di rumah ortu saya dilaksanakan dengan sederhana. Yang penting sah dan bisa berbagi momen bahagia dengan kerabat dan teman. Kedua belah ortu juga bukan dari kalangan berada, jadi kami sadar diri nggak mau memaksakan nikah di gedung mewah demi gengsi, tapi ngutang sana-sini.

Seminggu setelah nikah langsung pindah ke rumah kontrakan. Prinsip belagu, susah senang telen sendiri demi mandiri dan nggak ngerepotin ortu, hehe. Jatuh bangun 3 x pindah rumah ‘kontraktor’ sampai akhirnya bisa beli motor dan setelah 2 tahun bisa KPR rumah sendiri. Belum lagi ikhtiar (komplit dengan segala ups and down nya) punya momongan yang akhirnya terjawab di usia 3 tahun pernikahan. Juga pengalaman jadi rantau hampir 14 bulan di pulau seberang, setelah sebelumnya terpaksa LDR dengan suami kala hamil anak kedua. Semua usaha dan pembelajaran mulai dari nol dengan upaya sendiri.

Meski bisa dibilang nggak ada apa-apanya sama orang lain, saya tetap bangga. Masih banyak mimpi yang ingin kami raih bersama. Nggak melulu urusan dunia, tapi akhirat juga. Karena inilah inti dari segala perjalanan ini kan?

Perjalanan hidup bersama membina keluarga selama 8 tahun (and counting!), mengajarkan bahwa Insya Allah seberat apapun rintangan dan cobaan pasti ada hikmah di balik semuanya. Pernikahan itu partnership seumur hidup, selama saling setia dan paham kedudukannya masing-masing juga support dan mengayomi Insya Allah segala sesuatunya berjalan sesuai jalur.

Mudah-mudahan nilai hidup seperti ini juga bisa kami tanamkan ke anak-anak.

Semoga kami berdua bisa terus belajar untuk saling support sebagai pasangan dan orangtua, agar selalu jadi tempat pulang yang nyaman untuk satu sama lain (dan anak-anak).

Advertisements

9 thoughts on “Sewindu

  1. Happy anniversary mbak!
    Always remember that it takes two to tango.. mau kearah baik dibikin berdua, mau kearah buruk jg gara2 berdua.. semoga Allah merahmati pernikahan kalian selalu yaaa

  2. Selamat ya Mba (biarpun telat gapapa boleh buat tahun depan koq :mrgreen: ) , delapan tahun memang cukup memberi pelajaran bagi suami-istri tidak seperti sebelum lima tahun yang masih penuh gelombang. Kebetulan tahun ini uisa pernikahan kami juga delapan tahun #kitatosyaa 🙂

    • Waaa makasih, selamat juga untukmu yaa! Iya bener banget ibarat mata kalo 5 thn pertama itu merem jadi masih meraba-raba, setelahnya lumayan sedikit terbuka jadi bisa lihat lebih jelas yaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s