What If…

Bulan lalu ada berita duka, ninin nya anak-anak yakni ibunda tercinta dari suami tersayang berpulang.

Kami berempat sekaligus adik nomor 2 beserta kedua anaknya kala itu pulang ke Ciamis menengok Mamah dengan sedikit perasaan khawatir, karena beliau memang nyaris tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Sore itu saat kami sampai pun beliau duduk di ruang tengah seakan sudah menunggu kami dengan wajah sumringah. Seketika keyakinan beliau bisa sembuh langsung membuncah.

Hingga malam tiba kami semua masih bertukar cerita walau beliau lebih banyak tiduran, tapi melihat beliau masih bisa ke kamar mandi sendiri membuat kami nggak berpikir bahwa beliau nggak lama lagi akan pergi. Bahkan kurang dari satu jam sebelumnya, sekitar jam 12 malam, saya masih dengar beliau minta dibuatkan teh manis ke adik ipar. Beliau meninggal tepat hari Jumat 20 Feb 2015 sekitar jam 1 pagi dalam keadaan tidur dikelilingi anak mantu dan cucu-cucunya. Inalillahi wa inalillahi rojiuun, sampai kini masih nggak percaya secepat ini Allah SWT memanggilnya.

image

Kenangan terakhir enin bersama cucu2nya

Saat ditimpa musibah naluri kita sebagai manusia kadang berkata “andaikan…” meski sesungguhnya segala sesuatunya yang merupakan takdir takkan bisa dirubah kecuali atas kehendak Allah SWT. Berat memang kala orang itu berpulang dan tidak ada lagi yang bisa lakukan apalagi kita perbaiki. Bismillah, ikhlas.

Selamat jalan Mah, Insya Allah khusnul khotimah dan ditempatkan ke dalam golongan orang-orang mukmin.

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز، وإن أصابك شيء، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا، ولكن قل قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan.” – (HR. Muslim 2664)

Advertisements

[Review] Paddington

Mumpung masih anget, mau (belajar) aah bikin review film. Kebetulan belakangan lagi lumayan sering ajak anak-anak nonton, film keluarga tentunya. Sekalian ngebiasain Alika (almost 4 y.o) sama suasana nonton bioskop, makin kesini sukses sih bisa anteng nggak ngerengek minta pulang sampai film selesai. Walau kalo pas ada adegan berantem, sedih atau suara seram pasti langsung merangsek ke ayah/bunda 😀

Ok, let’s the review begin:

Alkisah pada suatu masa seorang penjelajah Inggris yang dalam suatu misi menemukan sebuah spesies baru nggak sengaja bertemu sebuah keluarga beruang yang terdiri Uncle Pastuzo, Aunt Lucy dan si keponakan beruang kecil di pedalaman Peru. Disamping segala perbedaan, si keluarga beruang dan si penjelajah bisa ‘saling beradaptasi’ dengan keunikan latar belakang spesies dan kebiasaan mereka masing-masing. Di akhir kunjungannya si penjelajah berucap, kapanpun mereka ke London mereka pasti akan diterima dengan baik layaknya rumah sendiri.

Keluarga itu jadi bisa menguasai bahasa inggris, menyukai dan bisa membuat selai jeruk, bahkan belajar sopan santun ala manusia.

Bertahun tahun hidup dalam kedamaian, kehidupan mereka berubah karena suatu peristiwa yang menyebabkan mereka kehilangan Uncle Pastuzo, membuat si beruang kecil terpaksa harus berpisah dengan Aunt Lucy dan menyelundupkan diri di sebuah kapal menuju London dengan harapan menemukan rumah.

Bersembunyi di kantong surat, ia terdampar di stasiun Paddington di mana ia bertemu keluarga Brown yang akhirnya karena membaca pesan di kalungnya yang tertulis “Please look after this bear, thank you” bersedia membantunya menemukan si penjelajah, dan juga memberinya nama Inggris: Paddington.

Apakah kemudian semuanya berjalan lancar buat Paddington di dunia yang sama sekali baru baginya? Ohoo.. Keseruan baru saja dimulai, dimana Paddington (tentunya) kesulitan beradaptasi karena perbedaan budaya, yang akhirnya membuat Mr. Brown ultimatum istrinya untuk segera kirim Paddington ke pihak berwenang.

Lalu gimana nasib Paddington?
Apa akhirnya dia bisa bertemu si penjelajah? Siapa pula Millicent yang tampak sangat tertarik dengan kedatangan Paddington ke London, apa kaitannya dengan si penjelajah?

Nah daripada dibilang spoiler, monggo nonton aja yaa.. 😀

image

dari worstpreviews.com, sayang nggak nemu poster yg lagi tayang di Indo

Film adaptasi dari buku fiksi anak-anak karya Michael Bond tahun 1958 yang berdurasi 95 menit ini diisi dengan berbagai emosi, ada lucu, sedih, haru dan bahagia.

Siap-siap juga terpukau sama ‘teknologi’ arsip museum yang mengingatkan kita sama film bertema sihir nan legendaris, Harry Potter.

Sebagai film keluarga agaknya memang lebih cocok menyasar anak yang (minimal) sudah duduk di bangku SD, karena banyak percakapan yang melibatkan emosi perasaan. Ada adegan flirting juga ketika Mr. Brown ‘terpaksa’ menyamar jadi perempuan dan digoda oleh keamanan museum. Juga ada kiss scene antara Mr. Brown dan istrinya. Belum lagi adegan Mrs. Bird tanding minum alkohol. Mungkin disini perlunya ortu menjelaskan soal beberapa adegan tersebut.

Tapi overall, film ini selain menghibur juga membawa pesan moral yang bagus. Khas film klasik komedi keluarga yang hangat. Bahwa dimanapun kita berada, dengan siapapun itu, kebaikan, kesopanan dan kesetaraan kepada sesama mahluk hidup tetap harus dijunjung tinggi.

Resolution Revolution

Sekali-kali mainstream aah, posting pertama di hari pertama tahun 2015. Biar kayak blogger beneran, gitu :p

Mau flash back sedikit soal setahun kemarin. Banyak sekali berkah Allah SWT buat keluarga kami. Baik yang berupa rejeki, keluarga yang baik, teman baru dan terutama kesehatan. Di tahun ini juga akhirnya kami kesampaian punya sesuatu yang udah diidamkan sejak lama. Alhamdulillah… Alhamdulillah.

Bersyukur banget masih dikasih umur, dikasih sehat dan dikasih kesempatan kumpul bareng keluarga tercinta di momen pergantian tahun ini. Biasanya memang cukup di rumah aja (baca: tidur, LOL) dan nggak pernah keluar atau bikin acara spesial. Tapi tahun ini mumpung masih liburan sekolah kami putusin nginep di rumah bulik saya, sekalian tiup lilin om nya anak-anak yang pas 31 Des genap 23 tahun. Wow, masih panjang perjalananmu Om!

Awal tahun sebenarnya selalu datang dengan perasaan yang nggak melulu happy sih. Tiap 1 Januari datang dengan kenyataan pahit bahwa orang yang paling penting dalam hidup saya nggak ada di sini.

Today would have been your 58th birthday, Bapak. It’s been 8 years and not a single day goes by without me thinking of you.

*al fatihah*

Gimana resolusi tahun lalu? Can’t say much, tapi yang jelas #menujulangsing mah bisa dibilang gagal 😀 *gimana mo langsing wong hobinya makan*
Jadi itu masih PR besar buat tahun ini. Cuma nggak mau ditulis sebagai resolusi ah, takut gak kesampaian dan bikin malu kalo ujungnya cuma jadi resolusi thok’ selama bertahun tahun 😝

• Lebih Rajin Nulis
Niatnya ngeblog kan supaya jadi media pencatatan milestone anak dan keluarga, tapi boleh juga dong saya nebeng nulis ocehan maupun pikiran nggak jelas di blog aja, paling nggak lebih produktif ketimbang ngerjain atau mikirin hal-hal yang nggak penting hehe.

• Lebih Hemat, Rajin Nabung dan Nambah RD
Tahun ini si kakak mau SD dan si adik masuk TK, kalo nggak pinter pinter ngatur anggaran keluarga gimana bisa ngebiayain cita cita ambil spesialisasi dokter anak kelak, ya kan?

• Renovasi Rumah
Ini cita cita yang tertunda lama, karena biayanya juga nggak sedikit. Kepingin mindahin kamar, besarin dapur, nambah ruang depan, nambah lantai atas, bla bla bla *lho kok banyak?*
Mudah2an tahun ini ada rejekinya. Aaamiin.

• Liburan
Kalo selama ini paling anak-anak seringnya diajak ke Bandung lagi.. Bandung lagi, pingin deh suatu saat ajak mereka liburan (agak lama) ke Yogya atau Malang. Semoga tahun ini kesampaian.

• Pengen Ibadah Lebih Baik
Nggak cuma sekadar sholat tepat waktu, kepingin rutin lagi puasa sunnah dan belajar mengaji yang baik dan benar.

• Belajar Ikhlas
Memberi tanpa mengungkit, memberi tanpa mempertanyakan. Disakiti tanpa balas memaki apalagi mendendam. Dan yang paling penting sih sebisa mungkin tetap menjaga hubungan baik, meski berat.

Segitu aja sih kayaknya, semoga tahun 2015 ini membawa banyak berkah dan kebahagian bagi kita dan orang2 yang ada di sekeliling kita yaa.

Have a wonderful years ahead, guys!

2014 in review

Tahun lalu sebenarnya bukan tahun yang produktif posting, but still.. Rasanya seneng juga dapat review dari WordPress ini 😀

Mudah-mudahan 2015 ini makin rajin ngeblognya, yaa. Yah at least once a month, eh.. every two weeks deh *ya elaaah (tetep) dikit amaaat*

———————

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 28,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 10 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Keliling kota dengan Bus City Tour Jakarta

Sebenernya udah agak lama juga sih tau soal #mpoksiti ini, panggilan sayang untuk bus bertingkat gratis yang sengaja disediakan pemprov DKI sejak awal tahun 2014 sebagai moda transportasi wisatawan keliling Jakarta. Tapi baru minggu lalu akhirnya kesampaian juga keliling naik bus tingkat yang lagi happening ini, setelah hari Minggu sebelumnya terpaksa mundur teratur karena bus nya selalu penuh dan antrian di tiap halte udah macam mau antri pembagian sembako gratis. Jadilah hari itu sempat manyun (sambil diapdet di Path pula) karena udah excited banget mau ajak anak-anak naik bus tingkat, eh nggak kesampaian.

Tapi ternyata ada hikmahnya juga pamer ngeluh di sosmed, nggak lama langsung disamber sama mak Sally Fauzi dan Uwi, trus janjian Rabu nya (24/12/14) play date naik city tour bareng deh.

Janjian kumpul jam 11 siang di McD Sarinah, sebenernya agak-agak jiper juga perdana sendirian bawa krucils naik angkutan umum jarak jauh. Bermodal bismillah dan nekat (demi bisa eksis naik bus tingkat), jam 8 pagi lebih sedikit saya dan duo A berangkat.

Alhamdulillah selama perjalanan anak2 kooperatif sekali, meski saya sempat kejauhan naik busway sampai Harmoni 😂😂 kalo dipikir lagi kenapa waktu naik APTB dari Ciputat nggak saya terusin aja yaa sampai Blok M, malah setuju sama saran mas kenek nya untuk nyambung TJ dari Pondok Pinang lalu transit Harmoni baru naik TJ lagi ke Sarinah. Iya sih nggak bayar lagi, tapi ternyata transjakarta di Harmoni itu antrinyaaa.. Kapok deh! Akhirnya daripada lama nunggu, kami naik APTB lagi aja dari Harmoni ke Sarinah hihi. Niat mau irit malah jadi muter-muter 😀 yaaah.. Sudahlah.

image

Sampai di McD langsung pesan makan karena anak-anak udah kelaparan, nggak lama akhirnya mak Sally bareng duo F nya datang juga. Selesai makan kita coba antri si #mpoksiti ternyata itu bus terakhir sebelum break makan siang, dan baru ada lagi jam 2 siang. Akhirnya kita masuk lagi ke McD deh, biar nggak bosen nunggu lama anak-anak numpang main di playground. Sayangnya karna ada keperluan lain, Uwi batal gabung hari itu.

Sekitar jam setengah 2 kami balik ke halte depan Sarinah, sampai akhirnya sejam lebih kemudian *elus elus betis* bus nya datang dan alhamdulillah nya kita dapat tempat duduk! 😀 Agak-agak takjub mengingat antrian di halte city tour itu masih berantakan dan sayangnya belum ada sistem antrian yang jelas.

image

image

Ada 9 halte yang dilewati bus ini, yaitu Sarinah, Bunderan HI, Museum Nasional, Pecenongan, Pasar Baru, Istiqlal, Monas 1 (Seberang Istana Merdeka), Monas 2 (seberang gedung Indosat), dan Balai Kota.

Karena di bus yang sementara baru ada 5 armada ini nggak boleh ada yang berdiri dan kapasitasnya terbatas jadi pantes aja kalo antriannya panjang, jumlah yang boleh naik tergantung dari jumlah kursi yang kosong. Total kapasitas bus ini 60 kursi, terdiri dari 18 kursi di lantai bawah dan 42 di lantai atas.

Pertama naik saya dapat di kursi bawah itu pun cuma satu kursi, alhasil dua anak dipangku hihi. Tapi untungnya, di tengah perjalanan ada aja orang yang turun di halte-halte city tour jadi kami bisa leluasa pindah tempat duduk ke lantai atas.

image

Sepanjang perjalanan Sarinah – Bunderan HI – Bank Indonesia – Monas – Museum Gajah – Pecenongan – Istiqlal – Balai Kota – Sarinah selain penumpang bisa foto-foto di dalam bus dengan pemandangan kota Jakarta, pengetahuan kita juga bertambah karena ada pemandu yang dengan fasih menjelaskan sejarah gedung-gedung yang kita lewati. Anak-anak senang banget dan kalo nggak inget hari semakin sore (dan lalin yang semakin padat karna bertepatan dengan misa natal) rasanya pingin lanjut 2 putaran deh, hihi.

image

Sekedar tips bagi yang ingin wisata keliling naik bus city tour ini:
– Sebaiknya naik dari halte Sarinah, karena meski banyak yang naik dari sini tapi juga banyak yang turun jadi kemungkinan dapat kursi lebih besar
– Bus ini beroperasi Senin-Sabtu jam 09.00 – 19.00. Sedangkan Minggu jam 12.00 – 19.00. Hindari weekend dan jam ramai yaitu siang dan sore hari, paling ideal adalah jam 9-10 pagi. Oya perlu diingat, di akhir pekan bus ini hanya berhenti di halte tertentu aja.
– Harap sabar antri dan tertib, nggak perlu berdesakan untuk naik dan patuhi aturan oleh pemandu dan petugas bus.
– Disarankan naik dan turun di halte tempat naik semula

Semoga ke depannya budaya antri masyarakat kita lebih tertib lagi, pelayanan bus nya lebih baik dan armada nya juga ditambah supaya wisatawan juga makin nyaman.

Selamat berwisata dan enjoy Jakarta 🙂

Hidden Paradise at Sentul Paradise Park

Dalam menggalakkan program wiken tanpa mal sekaligus menuntaskan rasa penasaran akan si air terjun bidadari setelah beberapa temen posting di Path *kumpetitip*, akhirnya terlaksana juga hari ini kami menyambangi Sentul Paradise Park ini.

Rute ke sana ternyata selain sangat menguji driving skill sang supir, juga ketahanan mental navigator lho! *urut urut dada gaya lebay*

Gimana nggak, jalan menuju tempat ini sungguh nggak mudah dengan kontur naik turun yang lumayan curam melewati perkampungan dan selain nggak selalu mulus, juga sempit. Waze nggak bisa jadi andalan, jadi sebaiknya rajin bertanya biar nggak nyasar ya.

Pasalnya setelah lumayan jauh menyusuri jalan setelah exit tol Sentul City kami kok nggak nemu petunjuk arah ke air terjun ini, jadilah nyaris bablas terus ke Jungleland baru tanya-tanya ibu pedagang di pinggir jalan dekat masjid, katanya kudu balik arah lalu ketemu Pos Aju Koramil terus belok kiri. Dan ternyata medannya seperti yang saya gambarin diatas tadi. *elus elus dada lagi*

Buat yang mau kesana ini rutenya yang lebih enak (karena pulangnya saya mbuntuti bis yang ternyata lewat situ hehe): kalau dari Jakarta via Tol Jagorawi keluar Exit Sentul City (Sentul Selatan) belok kiri, bundaran lurus terus, melewati Giant Express 500 meter ada percabangan jalan ambil ke kiri jalan menurun, belok kanan masuk terowongan, ikuti billboard petunjuk arah di setiap persimpangan. Waktu tempuh kurang lebih 45 menit sampai 1 jam untuk sampai di Sentul Paradise Park ini.

Masuk ke area SPP jalannya masih berkerikil dan cukup curam jadi harus extra hati-hati. Sedikit saran, mengingat jalannya yang masih belum bagus, kalau mobilnya sedan kayaknya sayang lho kalau dibawa kesini 😀

image

Mules selama perjalanan terbayar lunas begitu sampai sini

Tiket masuk perorang diatas usia 2th dikenakan 25rb (Senin-Jumat), 30rb (Sabtu & Minggu) dan 40rb (Hari Libur Nasional). Untuk turis asing tarifnya 50rb/org. Parkir mobil 10rb, sedangkan motor 5rb.

Sore tadi pas sampe sekitar jam setengah 3, cuacanya enak nggak terlalu panas. Begitu sampai parkiran, cek karcis di pintu masuk lanjut meniti anak tangga dan jalan sedikit ke bawah… Voila! kebayar deh semua rasa tegang di perjalanan tadi. Udara sejuk dan pemandangan hijau langsung menyambut kita. Nggak nyangka ada surga tersembunyi di pelosok Sentul 🙂

image

Krucils yang udah excited liat kolam, langsung minta main air. Brrr.. Airnya cukup dingin juga. Agaknya kolamnya memang sengaja diperuntukkan untuk anak-anak, karena cuma sedalam 70cm. Anak-anak harus selalu dalam pengawasan orang dewasa ya, karena selain lantai agak licin tapi juga kolamnya (sayangnya) jadi satu sama yang main perahu.

image

Keliatan sekali memang tempat ini masih minim fasilitas. Entah ini disengaja atau nggak, tapi toilet & kamar ganti yang sedikit plus masih berdinding bambu bikin gak sreg ya nggak sih? Sungguh disayangkan kalau tempat wisata sebagus ini nggak diperhatikan fasilitasnya. Semoga lain waktu kami kesana lagi akses jalannya udah lebih bagus.

Tips buat yang mau liburan ke sini:

– Sebaiknya bawa bekal dari rumah, karena nggak ada tempat makan yang proper di sekitar area SPP. Rata-rata jual mie instan dan bakso. Harga yang dipatok pun jauh lebih mahal.
– Kalau nggak mau keluar extra uang sewa saung (yang dihitung per 2-3jam), lebih baik bawa tikar sendiri. Sewa tikar di sana kena 30ribu lho!
– Lebih baik datang pagi, karena makin
sore makin ramai pengunjung.
– Jangan lupa foto-fotooo! Tapi postingnya ditunda ya, karena di sana sama sekali nggak ada sinyal 😀

Cerita Lebaran

Halo semuaaa… Apa kabar? *muncul dari dalam gua*

Masih suasana Idul Fitri kan ya. Dari lubuk hati terdalam, mohon dimaafkan segala salah dan khilaf ya, Taqobbalallahu Minna wa Minkum wa Shiyamana wa Shiyamakuum.

Lebaran kemarin kemana aja?

Agenda hari pertama Idul Fitri sejak awal nikah sih biasanya silaturahmi ke Mertua sehabis shalat Ied baru siangnya ke keluarga saya. Cuma 2 tahun ini rutenya berubah karena sejak awal 2013 Mertua pindah ke Ciamis, jadi hari pertama Lebaran kami di Jakarta dulu baru besoknya mudik ke Ciamis.

Lebaran kali ini halal bihalal keluarga saya bertempat di rumah salah satu Om di daerah Serpong. Biasanya Om yang di Bekasi yang jadi tuan rumah, cuma tahun ini skip dulu karena lagi ditinggal anaknya yang lagi dapat beasiswa UI untuk short course di Belgia.

Enaknya tradisi kumpul keluarga besar kayak gini adalah semua anggota keluarga baik yang di tengah kota atau pinggiran (macam saya) kumpul di satu tempat jadi nggak repot wira wiri ke rumah masing-masing lagi kan. Lebih irit tenaga & bensin tapi juga kan lebih rame, hehe.

image

Narsis berdua, anaknya malah sibuk sendiri

Oya, selama nyaris 9 tahun menikah seinget saya baru sekali punya baju Lebaran seragaman sama suami deh, sama anak-anak malah belum pernah. Maklum saya mah anti ribet orangnya, nggak terlalu nafsu jahitin baju atau pesen khusus baju spesial untuk sekeluarga. Padahal mah jujur pengen, hahaa.. Cuma ya seringnya seketemunya yang harganya cocok aja.

Trus satu lagi, saking sibuknya silaturahmi dan makan makanan Lebaran, suka nyesel kenapa selalu kelupaan untuk nggak foto sekeluarga trus posting di semua socmed kayak keluarga masa kini. Kan lumayan buat kenang-kenangan dan pembanding berat badan dari tahun ke tahun ya 😀 *eh*

Hari kedua Lebaran, saatnya menuju kampung halaman suami di Ciamis. Jam 2.30 pagi saya dan suami kompak bangun, mandi pagi lalu langsung boyong anak-anak masuk mobil. Berharap semakin awal kita berangkat, nggak terlalu macet pula di jalan kan. Jam 5 lewat akhirnya sampai di Rest Area 147 Tol Padaleunyi, sholat subuh dan beli sarapan untuk dijalan. Ternyata keluar rest area udah macet panjang sampai exit tol. Mungkin imbas pemudik yang biasa lewat jalur pantura jadi putar haluan lewat selatan karena ada jembatan ambles. Alhamdulillah perjalanan jauh dan macet berat begitu krucils nggak ada yang cranky apalagi muntah selama perjalanan. Jam 4 sore akhirnya sampai Ciamis. Total jendral 12 jam, yang normalnya cuma separohnya 😀 *elus elus bujur*

Besoknya selain silaturahmi ke saudara-saudara suami juga sorenya sempat main-main ke alun-alun bareng Eninnya anak-anak. Setiap sore apalagi hari libur, tempat ini nyaris nggak pernah sepi dari berbagai permainan anak dan pedagang kaki lima. Tipsnya jangan datang terlalu sore apalagi malam, bisa bisa harus parkir di pinggir jalan saking penuhnya.

Begitu sampai, anak-anak langsung rikues naik becak cinta. Becak cinta ini kalo malam ramai sama lampu warna warni lho, cantik deh. Bisa pilih, keliling alun-alun digowesin abangnya dengan tarif 20 ribu atau cukup 10 ribu tapi gowes sendiri. Tentunya pilih yang pertama! Hahaa. Kita udah kapok deh sok-sokan gowes sendiri dengan alasan biar irit, setelahnya ngos-ngosan karena meski alun-alun nggak seberapa besar tapi ya tetep aja ternyata capek banget, jendral! 😀 😀

image

Naik becak cinta, main layangan, naik delman domba

Ada satu lagi yang jadi favorit anak-anak di sana, namanya deldom alias delman domba. Yang ini khusus anak-anak aja, karena eh.. karena.. kasian mosok dia harus menanggung berat badan orang dewasa juga, emangnya nggak cukup dia menanggung beban perasaan harus jadi pengganti kuda? *krik krikk*

Sambil nungguin krucils main, nggak lupa ngemil-ngemil cantik. Beli cilok yang disiram bumbu kacang, pas bener buat cemilan sambil menikmati suasana sore di alun-alun.

Pulang dari sana, mampirlah ke salah satu kuliner terkenal di Ciamis yaitu mie gelosor di Warung Baso AGA H. Oding, sekitar 500m dari alun-alun. Kalo menurut lidah saya sih yaa, mienya mirip-mirip lah sama bihun, cuma ini selain warnanya yang kuning (dari tepung tapioka), teksturnya lebih kenyal dan agak tebal sedikit dari bihun. Katanya nih kenapa namanya mie gelosor, karena pas dimakan si mienya itu gelosor-gelosor alias licin. Hahaha.
Yang unik, pelengkapnya selain sambel bawang juga pakai acar mentimun, beuh seger! Baksonya sendiri juga termasuk kecil kecil jadi rasanya pas aja porsinya. Nggak bikin begah. Semangkuk mie baso gelosor harganya 13 ribu rupiah aja.

Kalau mau tambahan pelengkap baso ada sayap ayam dan babat juga, cuma kemarin itu saya nggak coba.

image

Diambil dari diciamis.com

Sebelum pulang, nggak lupa beli buah tangan dulu di Pusat Oleh Oleh Suka Senang, di Km 6 Jalan Raya Ciamis-Banjar. Industri rumahan yang cukup besar di Ciamis karena produknya yang enak dan bermutu baik, juga nggak mahal. Produk utamanya berbahan dasar pisang, diolah jadi keripik dan sale dengan berbagai rasa dan jenis. Sale tetap dibaca sale, bukan berarti dibaca diskon yah 😀 Mereka juga jual galendo, chocodot, seroja (yang mirip kembang goyang betawi tapi rasanya gurih) dan banyak lagi makanan khas Ciamis lainnya.

Besoknya dalam perjalanan kembali ke Jakarta (padahal ktp domisili Depok tapi kenapa lebih enak nyebut Jakarta ketimbang Depok ya?), kami mampir ke Rumah Makan Cibiuk di daerah Limbangan, Garut. Rejeki banget karena saat itu jam makan siang, dan alhamdulillah nggak penuh.

image

Asik lihat ikan sambil nunggu makanan dianter

Selain konsep ruang makan dengan meja dan kursi di depan, ada juga tempat di saung diatas kolam ikan dan bersebelahan dengan mini playground. Juga ada sentra oleh-oleh di dalamnya.

Oya di sini sambal sifatnya bukan complimentary macam di rumah makan lain, jadi harus pesan lagi. Tapi so far nggak mengecewakan kok. Makanannya enak, servicenya lumayan cepat, musholla dan toiletnya pun bersih. Krucils bahkan numpang mandi sebelum pulang.

image

Makan enak dulu setelah 7 jam perjalanan

Makan berempat dengan menu ayam bambu, tumis genjer oncom, ayam bakar, ikan bawal goreng, tahu kipas, es kelapa, teh manis dan sambal cibiuk seinget saya nggak sampai 200 ribu. Masih cukup wajar lah.

Enaknya mudik lewat jalur selatan itu memang pilihan rumah makannya banyak, tempat dan makanannya enak-enak. Next time mau coba the most recommended resto Pak Asep Stroberi ah, katanya selain tempatnya nyaman & asri banget, banyak permainan anak-anak, juga bisa belajar bikin keramik lho *kemudian berkhayal jadi Demi Moore di film Ghost*

Jadi,… Itu cerita Lebaran ku, apa ceritamu? 😉