Keliling kota dengan Bus City Tour Jakarta

Sebenernya udah agak lama juga sih tau soal #mpoksiti ini, panggilan sayang untuk bus bertingkat gratis yang sengaja disediakan pemprov DKI sejak awal tahun 2014 sebagai moda transportasi wisatawan keliling Jakarta. Tapi baru minggu lalu akhirnya kesampaian juga keliling naik bus tingkat yang lagi happening ini, setelah hari Minggu sebelumnya terpaksa mundur teratur karena bus nya selalu penuh dan antrian di tiap halte udah macam mau antri pembagian sembako gratis. Jadilah hari itu sempat manyun (sambil diapdet di Path pula) karena udah excited banget mau ajak anak-anak naik bus tingkat, eh nggak kesampaian.

Tapi ternyata ada hikmahnya juga pamer ngeluh di sosmed, nggak lama langsung disamber sama mak Sally Fauzi dan Uwi, trus janjian Rabu nya (24/12/14) play date naik city tour bareng deh.

Janjian kumpul jam 11 siang di McD Sarinah, sebenernya agak-agak jiper juga perdana sendirian bawa krucils naik angkutan umum jarak jauh. Bermodal bismillah dan nekat (demi bisa eksis naik bus tingkat), jam 8 pagi lebih sedikit saya dan duo A berangkat.

Alhamdulillah selama perjalanan anak2 kooperatif sekali, meski saya sempat kejauhan naik busway sampai Harmoni 😂😂 kalo dipikir lagi kenapa waktu naik APTB dari Ciputat nggak saya terusin aja yaa sampai Blok M, malah setuju sama saran mas kenek nya untuk nyambung TJ dari Pondok Pinang lalu transit Harmoni baru naik TJ lagi ke Sarinah. Iya sih nggak bayar lagi, tapi ternyata transjakarta di Harmoni itu antrinyaaa.. Kapok deh! Akhirnya daripada lama nunggu, kami naik APTB lagi aja dari Harmoni ke Sarinah hihi. Niat mau irit malah jadi muter-muter πŸ˜€ yaaah.. Sudahlah.

image

Sampai di McD langsung pesan makan karena anak-anak udah kelaparan, nggak lama akhirnya mak Sally bareng duo F nya datang juga. Selesai makan kita coba antri si #mpoksiti ternyata itu bus terakhir sebelum break makan siang, dan baru ada lagi jam 2 siang. Akhirnya kita masuk lagi ke McD deh, biar nggak bosen nunggu lama anak-anak numpang main di playground. Sayangnya karna ada keperluan lain, Uwi batal gabung hari itu.

Sekitar jam setengah 2 kami balik ke halte depan Sarinah, sampai akhirnya sejam lebih kemudian *elus elus betis* bus nya datang dan alhamdulillah nya kita dapat tempat duduk! πŸ˜€ Agak-agak takjub mengingat antrian di halte city tour itu masih berantakan dan sayangnya belum ada sistem antrian yang jelas.

image

image

Ada 9 halte yang dilewati bus ini, yaitu Sarinah, Bunderan HI, Museum Nasional, Pecenongan, Pasar Baru, Istiqlal, Monas 1 (Seberang Istana Merdeka), Monas 2 (seberang gedung Indosat), dan Balai Kota.

Karena di bus yang sementara baru ada 5 armada ini nggak boleh ada yang berdiri dan kapasitasnya terbatas jadi pantes aja kalo antriannya panjang, jumlah yang boleh naik tergantung dari jumlah kursi yang kosong. Total kapasitas bus ini 60 kursi, terdiri dari 18 kursi di lantai bawah dan 42 di lantai atas.

Pertama naik saya dapat di kursi bawah itu pun cuma satu kursi, alhasil dua anak dipangku hihi. Tapi untungnya, di tengah perjalanan ada aja orang yang turun di halte-halte city tour jadi kami bisa leluasa pindah tempat duduk ke lantai atas.

image

Sepanjang perjalanan Sarinah – Bunderan HI – Bank Indonesia – Monas – Museum Gajah – Pecenongan – Istiqlal – Balai Kota – Sarinah selain penumpang bisa foto-foto di dalam bus dengan pemandangan kota Jakarta, pengetahuan kita juga bertambah karena ada pemandu yang dengan fasih menjelaskan sejarah gedung-gedung yang kita lewati. Anak-anak senang banget dan kalo nggak inget hari semakin sore (dan lalin yang semakin padat karna bertepatan dengan misa natal) rasanya pingin lanjut 2 putaran deh, hihi.

image

Sekedar tips bagi yang ingin wisata keliling naik bus city tour ini:
– Sebaiknya naik dari halte Sarinah, karena meski banyak yang naik dari sini tapi juga banyak yang turun jadi kemungkinan dapat kursi lebih besar
– Bus ini beroperasi Senin-Sabtu jam 09.00 – 19.00. Sedangkan Minggu jam 12.00 – 19.00. Hindari weekend dan jam ramai yaitu siang dan sore hari, paling ideal adalah jam 9-10 pagi. Oya perlu diingat, di akhir pekan bus ini hanya berhenti di halte tertentu aja.
– Harap sabar antri dan tertib, nggak perlu berdesakan untuk naik dan patuhi aturan oleh pemandu dan petugas bus.
– Disarankan naik dan turun di halte tempat naik semula

Semoga ke depannya budaya antri masyarakat kita lebih tertib lagi, pelayanan bus nya lebih baik dan armada nya juga ditambah supaya wisatawan juga makin nyaman.

Selamat berwisata dan enjoy Jakarta πŸ™‚

Advertisements

Hidden Paradise at Sentul Paradise Park

Dalam menggalakkan program wiken tanpa mal sekaligus menuntaskan rasa penasaran akan si air terjun bidadari setelah beberapa temen posting di Path *kumpetitip*, akhirnya terlaksana juga hari ini kami menyambangi Sentul Paradise Park ini.

Rute ke sana ternyata selain sangat menguji driving skill sang supir, juga ketahanan mental navigator lho! *urut urut dada gaya lebay*

Gimana nggak, jalan menuju tempat ini sungguh nggak mudah dengan kontur naik turun yang lumayan curam melewati perkampungan dan selain nggak selalu mulus, juga sempit. Waze nggak bisa jadi andalan, jadi sebaiknya rajin bertanya biar nggak nyasar ya.

Pasalnya setelah lumayan jauh menyusuri jalan setelah exit tol Sentul City kami kok nggak nemu petunjuk arah ke air terjun ini, jadilah nyaris bablas terus ke Jungleland baru tanya-tanya ibu pedagang di pinggir jalan dekat masjid, katanya kudu balik arah lalu ketemu Pos Aju Koramil terus belok kiri. Dan ternyata medannya seperti yang saya gambarin diatas tadi. *elus elus dada lagi*

Buat yang mau kesana ini rutenya yang lebih enak (karena pulangnya saya mbuntuti bis yang ternyata lewat situ hehe): kalau dari Jakarta via Tol Jagorawi keluar Exit Sentul City (Sentul Selatan) belok kiri, bundaran lurus terus, melewati Giant Express 500 meter ada percabangan jalan ambil ke kiri jalan menurun, belok kanan masuk terowongan, ikuti billboard petunjuk arah di setiap persimpangan. Waktu tempuh kurang lebih 45 menit sampai 1 jam untuk sampai di Sentul Paradise Park ini.

Masuk ke area SPP jalannya masih berkerikil dan cukup curam jadi harus extra hati-hati. Sedikit saran, mengingat jalannya yang masih belum bagus, kalau mobilnya sedan kayaknya sayang lho kalau dibawa kesini πŸ˜€

image

Mules selama perjalanan terbayar lunas begitu sampai sini

Tiket masuk perorang diatas usia 2th dikenakan 25rb (Senin-Jumat), 30rb (Sabtu & Minggu) dan 40rb (Hari Libur Nasional). Untuk turis asing tarifnya 50rb/org. Parkir mobil 10rb, sedangkan motor 5rb.

Sore tadi pas sampe sekitar jam setengah 3, cuacanya enak nggak terlalu panas. Begitu sampai parkiran, cek karcis di pintu masuk lanjut meniti anak tangga dan jalan sedikit ke bawah… Voila! kebayar deh semua rasa tegang di perjalanan tadi. Udara sejuk dan pemandangan hijau langsung menyambut kita. Nggak nyangka ada surga tersembunyi di pelosok Sentul πŸ™‚

image

Krucils yang udah excited liat kolam, langsung minta main air. Brrr.. Airnya cukup dingin juga. Agaknya kolamnya memang sengaja diperuntukkan untuk anak-anak, karena cuma sedalam 70cm. Anak-anak harus selalu dalam pengawasan orang dewasa ya, karena selain lantai agak licin tapi juga kolamnya (sayangnya) jadi satu sama yang main perahu.

image

Keliatan sekali memang tempat ini masih minim fasilitas. Entah ini disengaja atau nggak, tapi toilet & kamar ganti yang sedikit plus masih berdinding bambu bikin gak sreg ya nggak sih? Sungguh disayangkan kalau tempat wisata sebagus ini nggak diperhatikan fasilitasnya. Semoga lain waktu kami kesana lagi akses jalannya udah lebih bagus.

Tips buat yang mau liburan ke sini:

– Sebaiknya bawa bekal dari rumah, karena nggak ada tempat makan yang proper di sekitar area SPP. Rata-rata jual mie instan dan bakso. Harga yang dipatok pun jauh lebih mahal.
– Kalau nggak mau keluar extra uang sewa saung (yang dihitung per 2-3jam), lebih baik bawa tikar sendiri. Sewa tikar di sana kena 30ribu lho!
– Lebih baik datang pagi, karena makin
sore makin ramai pengunjung.
– Jangan lupa foto-fotooo! Tapi postingnya ditunda ya, karena di sana sama sekali nggak ada sinyal πŸ˜€

Cerita Lebaran

Halo semuaaa… Apa kabar? *muncul dari dalam gua*

Masih suasana Idul Fitri kan ya. Dari lubuk hati terdalam, mohon dimaafkan segala salah dan khilaf ya, Taqobbalallahu Minna wa Minkum wa Shiyamana wa Shiyamakuum.

Lebaran kemarin kemana aja?

Agenda hari pertama Idul Fitri sejak awal nikah sih biasanya silaturahmi ke Mertua sehabis shalat Ied baru siangnya ke keluarga saya. Cuma 2 tahun ini rutenya berubah karena sejak awal 2013 Mertua pindah ke Ciamis, jadi hari pertama Lebaran kami di Jakarta dulu baru besoknya mudik ke Ciamis.

Lebaran kali ini halal bihalal keluarga saya bertempat di rumah salah satu Om di daerah Serpong. Biasanya Om yang di Bekasi yang jadi tuan rumah, cuma tahun ini skip dulu karena lagi ditinggal anaknya yang lagi dapat beasiswa UI untuk short course di Belgia.

Enaknya tradisi kumpul keluarga besar kayak gini adalah semua anggota keluarga baik yang di tengah kota atau pinggiran (macam saya) kumpul di satu tempat jadi nggak repot wira wiri ke rumah masing-masing lagi kan. Lebih irit tenaga & bensin tapi juga kan lebih rame, hehe.

image

Narsis berdua, anaknya malah sibuk sendiri

Oya, selama nyaris 9 tahun menikah seinget saya baru sekali punya baju Lebaran seragaman sama suami deh, sama anak-anak malah belum pernah. Maklum saya mah anti ribet orangnya, nggak terlalu nafsu jahitin baju atau pesen khusus baju spesial untuk sekeluarga. Padahal mah jujur pengen, hahaa.. Cuma ya seringnya seketemunya yang harganya cocok aja.

Trus satu lagi, saking sibuknya silaturahmi dan makan makanan Lebaran, suka nyesel kenapa selalu kelupaan untuk nggak foto sekeluarga trus posting di semua socmed kayak keluarga masa kini. Kan lumayan buat kenang-kenangan dan pembanding berat badan dari tahun ke tahun ya πŸ˜€ *eh*

Hari kedua Lebaran, saatnya menuju kampung halaman suami di Ciamis. Jam 2.30 pagi saya dan suami kompak bangun, mandi pagi lalu langsung boyong anak-anak masuk mobil. Berharap semakin awal kita berangkat, nggak terlalu macet pula di jalan kan. Jam 5 lewat akhirnya sampai di Rest Area 147 Tol Padaleunyi, sholat subuh dan beli sarapan untuk dijalan. Ternyata keluar rest area udah macet panjang sampai exit tol. Mungkin imbas pemudik yang biasa lewat jalur pantura jadi putar haluan lewat selatan karena ada jembatan ambles. Alhamdulillah perjalanan jauh dan macet berat begitu krucils nggak ada yang cranky apalagi muntah selama perjalanan. Jam 4 sore akhirnya sampai Ciamis. Total jendral 12 jam, yang normalnya cuma separohnya πŸ˜€ *elus elus bujur*

Besoknya selain silaturahmi ke saudara-saudara suami juga sorenya sempat main-main ke alun-alun bareng Eninnya anak-anak. Setiap sore apalagi hari libur, tempat ini nyaris nggak pernah sepi dari berbagai permainan anak dan pedagang kaki lima. Tipsnya jangan datang terlalu sore apalagi malam, bisa bisa harus parkir di pinggir jalan saking penuhnya.

Begitu sampai, anak-anak langsung rikues naik becak cinta. Becak cinta ini kalo malam ramai sama lampu warna warni lho, cantik deh. Bisa pilih, keliling alun-alun digowesin abangnya dengan tarif 20 ribu atau cukup 10 ribu tapi gowes sendiri. Tentunya pilih yang pertama! Hahaa. Kita udah kapok deh sok-sokan gowes sendiri dengan alasan biar irit, setelahnya ngos-ngosan karena meski alun-alun nggak seberapa besar tapi ya tetep aja ternyata capek banget, jendral! πŸ˜€ πŸ˜€

image

Naik becak cinta, main layangan, naik delman domba

Ada satu lagi yang jadi favorit anak-anak di sana, namanya deldom alias delman domba. Yang ini khusus anak-anak aja, karena eh.. karena.. kasian mosok dia harus menanggung berat badan orang dewasa juga, emangnya nggak cukup dia menanggung beban perasaan harus jadi pengganti kuda? *krik krikk*

Sambil nungguin krucils main, nggak lupa ngemil-ngemil cantik. Beli cilok yang disiram bumbu kacang, pas bener buat cemilan sambil menikmati suasana sore di alun-alun.

Pulang dari sana, mampirlah ke salah satu kuliner terkenal di Ciamis yaitu mie gelosor di Warung Baso AGA H. Oding, sekitar 500m dari alun-alun. Kalo menurut lidah saya sih yaa, mienya mirip-mirip lah sama bihun, cuma ini selain warnanya yang kuning (dari tepung tapioka), teksturnya lebih kenyal dan agak tebal sedikit dari bihun. Katanya nih kenapa namanya mie gelosor, karena pas dimakan si mienya itu gelosor-gelosor alias licin. Hahaha.
Yang unik, pelengkapnya selain sambel bawang juga pakai acar mentimun, beuh seger! Baksonya sendiri juga termasuk kecil kecil jadi rasanya pas aja porsinya. Nggak bikin begah. Semangkuk mie baso gelosor harganya 13 ribu rupiah aja.

Kalau mau tambahan pelengkap baso ada sayap ayam dan babat juga, cuma kemarin itu saya nggak coba.

image

Diambil dari diciamis.com

Sebelum pulang, nggak lupa beli buah tangan dulu di Pusat Oleh Oleh Suka Senang, di Km 6 Jalan Raya Ciamis-Banjar. Industri rumahan yang cukup besar di Ciamis karena produknya yang enak dan bermutu baik, juga nggak mahal. Produk utamanya berbahan dasar pisang, diolah jadi keripik dan sale dengan berbagai rasa dan jenis. Sale tetap dibaca sale, bukan berarti dibaca diskon yah πŸ˜€ Mereka juga jual galendo, chocodot, seroja (yang mirip kembang goyang betawi tapi rasanya gurih) dan banyak lagi makanan khas Ciamis lainnya.

Besoknya dalam perjalanan kembali ke Jakarta (padahal ktp domisili Depok tapi kenapa lebih enak nyebut Jakarta ketimbang Depok ya?), kami mampir ke Rumah Makan Cibiuk di daerah Limbangan, Garut. Rejeki banget karena saat itu jam makan siang, dan alhamdulillah nggak penuh.

image

Asik lihat ikan sambil nunggu makanan dianter

Selain konsep ruang makan dengan meja dan kursi di depan, ada juga tempat di saung diatas kolam ikan dan bersebelahan dengan mini playground. Juga ada sentra oleh-oleh di dalamnya.

Oya di sini sambal sifatnya bukan complimentary macam di rumah makan lain, jadi harus pesan lagi. Tapi so far nggak mengecewakan kok. Makanannya enak, servicenya lumayan cepat, musholla dan toiletnya pun bersih. Krucils bahkan numpang mandi sebelum pulang.

image

Makan enak dulu setelah 7 jam perjalanan

Makan berempat dengan menu ayam bambu, tumis genjer oncom, ayam bakar, ikan bawal goreng, tahu kipas, es kelapa, teh manis dan sambal cibiuk seinget saya nggak sampai 200 ribu. Masih cukup wajar lah.

Enaknya mudik lewat jalur selatan itu memang pilihan rumah makannya banyak, tempat dan makanannya enak-enak. Next time mau coba the most recommended resto Pak Asep Stroberi ah, katanya selain tempatnya nyaman & asri banget, banyak permainan anak-anak, juga bisa belajar bikin keramik lho *kemudian berkhayal jadi Demi Moore di film Ghost*

Jadi,… Itu cerita Lebaran ku, apa ceritamu? πŸ˜‰

Taman Wisata Matahari

Haiiii… Lama yaa tak jumpa! *kibas kibas kemoceng*

Liburan sekolah kali ini pas banget sama bulan Ramadan. Tapi sebagai keluarga yang hobinya jalan-jalan, kok ya rasanya rugi amat kalo puasa malah males-malesan di rumah.
Catet: yang males-malesan itu hanya berlaku untuk anggota keluarga yang lain, bukan emaknya πŸ˜€ *curcol*

Rabu 9 Juli pas banget libur dalam rangka pilpres, kelar nyoblos langsung deh kasak kusuk berdua suami rencana mau kemana. Nyeletuk lah saya, soal keinginan main ke Puncak. Ehh (anehnya) disambut antusias sama suami. Hahaha. Salah ngomong sama orang yang lebih doyan jalan lagi dari saya.

Lalin lancar sangat di hari ini. Pamulang – Puncak makan waktu 2,5 jam saja, sodara-sodara! Mungkin faktor pilpres dan bulan puasa kali ya. Lagipula karena wikdey jadi nggak ada jam buka tutup jalur.

Jam setengah 1 siang kita sampai di Masjid Atta’awun buat shalat dzuhur. Believe it or not, seumur hidup ini pertama kali menginjakkan kaki ke the legendary mosque. Dari pelataran masjid kami nikmati udara sejuk sambil liat beberapa yang terjun payung dari riung gunung. Sungguh terpesona sama viewnya. Subhanallah.

image

Si adek salah kostum sendiri. Dingin padahal!

Selesai dari sana, sambil turun kita bingung lagi mau kemana. Mana jam buka masih lama. Hahaha. Bener-bener keluarga go show. Akhirnya sepakat turun sambil cari makan siang untuk anak-anak karena emaknya gak sempat ngebekal. Alea libur dulu puasanya karena lagi batuk. Ternyata sepanjang jalur puncak semua warung dan resto tutup dan baru buka jam 4 sore! Salut, takjub dan heran sih sebenernya, sementara di daerah lain biasanya pada buka normal dan (walaupun ditutup kain) keliatan banyak bener yang makan πŸ˜€

Akhirnya diputuskan coba sekalian ke Taman Wisata Matahari yang lokasinya nggak jauh dari Cimory resto. Kalau dari arah ciawi posisinya ada di kiri jalan. Alhamdulillah nemu resto fast food yang buka juga di dalamnya.

Jangan heran kalo banyak liat logo Matahari department store di area yang kabarnya seluas 20 hektar ini ya, karena pemilik tempat rekreasi ini adalah juga pendiri usaha Matahari Group.

Berbagai fasilitas wisata ada di sini, kayak; villa dan penginapan, kolam renang, wisata air, wisata sungai, paddle boat, mini boat, bumper boat, mobil & motor safari, ATV off road, arena bermain anak, komidi putar, dan masih banyak lagi.

Karena kemarin termasuk weekday, tiket masuk cuma Rp10,000/orang. Sedangkan weekend dan hari libur nasional dikenakan Rp15,000/orang. Anak dengan tinggi di bawah 80cm gratis. Parkir mobil sepuasnya hanya 5000.

image

Jalur masuknya sedikit menantang sih untuk mobil (apalagi yang rada gede) karena bener bener sempiiit! Pas untuk satu mobil dan kanan kiri (bahkan ditengah jalan) ada pohon dan pembatas batu. Mungkin sebenarnya harusnya buat pejalan kali kali ya, tapi kalo jalan dari parkiran ke dalam kok ya jauh banget.

Di tiket masuknya tertera udah termasuk gratis beberapa permainan kayak sepeda wisata, perahu karet, paddle boat dan sepeda air. Tapi anehnya pas kami coba naik sepeda air dibilang tiketnya nggak termasuk terusan jadi harus bayar lagi 5000 rupiah per orang. Ya demi nyenengin anak yang ngerengek pengen naik, akhirnya bayar aja deh.

image

image

image

Sayang mungkin karena puasa, banyak wahana yang nggak beroperasi. Petugas pun jarang yang keliatan. Beberapa wahana keliatan kotor dan kurang terawat, termasuk area playground yang entah kenapa nggak dilapisi matras. Jadi rentan anak luka kalo main dan jatuh ke lantai. Beberapa tempat juga masih dalam tahap renovasi/pembangunan.

Cuma untuk alternatif tempat rekreasi murah meriah bersama keluarga dan foto-foto boleh lah. Mungkin suatu hari kami balik lagi dan bisa nyoba semua wahana yang ada πŸ˜€

image

image

Taman Wisata Matahari
Jl. Raya Puncak Km77
Jogjogan Cisarua
Kota Bogor 16750
http://tamanwisatamatahari.co.id/

Screen-Time Diet

Postingan ini udah nongkrong hampir setengah tahun di draft, kebanyakan mikir ‘posting-enggak-posting-enggak’. Lah tapi mengacu pada blog aing kumaha aing *lirik ndutyke*, mudah-mudahan aja jadi sharing yang bermanfaat buat sesama ortu πŸ™‚

Jadi sekitar paruh akhir 2012 lalu, saya minta suami sebagai hadiah ultah beli komputer tablet berbasis android. Niat awalnya memang jadi salah satu sarana hiburan saya; ya buat main game masak-masakkan dari diner dash sampai restaurant story, satu-dua aplikasi ceting, sosmed atau (kadang-kadang) ngeblog. Lama-lama karena udah makin nyaman dengan ‘mainan baru’, akhirnya memang saya say good bye ke smartphone sejuta umat alias BB dan tablet ini jadi berperan penuh sebagai alat komunikasi juga.

Nggak kegedean?

Awalnya sik iya. Tapi karena waktu itu kami di Palembang lebih banyak di rumah, saya nggak pernah bawa keluar apalagi kalo pergi jarak dekat dan sebentar.
Untuk urusan sms dan telepon cukup puas dengan hape gsm murmer bonus dari beli si tablet pun.

Dari seringnya pegang dan ubek-ubek Play Store, tahu sendiri lah ya di sana bertebaran aplikasi gratisan sampai berbayar, dari games sampai app bernilai edukatif untuk keluarga.

Disinilah kami sedikit banyak akhirnya ‘memperkenalkan’ komputer tablet ini ke Alea, (waktu itu) 3,5th. Awalnya hanya install aplikasi belajar mewarnai, menggambar, membaca, lagu hingga game memory untuk anak-anak.

Memang awalnya juga nggak setiap waktu dikasih, tapi makin lama seakan dia terlalu attached dengan gadget satu ini. Kadang lebih milih diam di rumah main tablet, daripada keluar main sore misalnya. Hal yang sama juga terjadi kalo udah duduk nonton salah satu saluran anak-anak di tv berbayar. Harus perang urat dulu kalau minta dia udahan. Dan itu berlanjut sampai kami pindah lagi ke Jakarta, eh.. Pamulang ding. Kontrol yang lemah dari saya dan suami berperan besar sih sama habit barunya itu. *tutup muka*

Okay, now you can judge me.

*nyengir*

Makin kesini ada perasaan waswas juga kalau terlalu lama dibiarin, pasti bakal banyak efek negatifnya kan. Padahal menurut artikel-artikel parenting yang saya baca, batas waktu ‘screen time’ balita itu katanya maksimal cuma 2 jam sehari. Lebih dari itu, dikhawatirkan perkembangan sosial dan emosionalnya terganggu.

Nah, daripada makin kebablasan, akhirnya sepakat berdua suami, tablet hanya boleh pakai pas weekend aja. Dan harus ijin dulu. TV masih boleh tiap hari tapi cuma sore selepas dia ngaji sampai adzan maghrib. Tapi seringnya saya ajak anak-anak main di luar atau undang temannya main di rumah.

image

Wiken saat jalan bareng berempat pun saya usahakan nggak bawa tablet jadi otomatis anak-anak main gadget cuma pas di rumah. Saya coba alihkan ke yang lain, beli buku atau majalah misalnya. Mainan (kadang) boleh dengan syarat dan ketentuan πŸ˜€

Kasih kebiasaan baru memang nggak gampang, tapi gimana soal konsisten kitanya aja kok ternyata. Dan kreatif cari kegiatan yang lain juga sih ya.

Sekarang, apalagi udah kenal konsep hari bulan tahun, alhamdulillah Alea (5th+) sekarang udah ngerti sendiri rutinitas hariannya. Mana yang bisa dilakuin saat hari sekolah dan mana yang cuma bisa di saat wiken.

Sisi positifnya: saya perhatikan tantrumnya berkurang, sosialisasinya membaik, komunikasi ke kami orangtuanya juga lebih enak diajak kompromi. Udah lebih ngerti kalau dikasih tau kenapa nggak boleh begini dan begitu. Saya (berusaha) tegas dan kasih alasan jelas, bukan ngomel gak ada juntrungan. Yaa walau sering juga merepet sih hihi. *bekep mulut*

Di jaman serba canggih kayak sekarang kita memang nggak bisa selamanya ya menahan anak supaya gak kenal teknologi sama sekali, lha wong hari gini aja anak TK udah belajar pake laptop lhooo!
Tapi kita bisa kok buat anak gak gaptek dan tetap tau batasan menggunakannya πŸ™‚

Kampoeng Maen Cibubur

Jadi, akhir Februari lalu *iyaa iyaaa postingan ini udah telat sebulan*, sekolah Alea ngadain acara outbond di Kampoeng Maen Cibubur. Sebenarnya pas waktu diundang rapat sama ibu-ibu komite untuk bahas tujuannya saya rada keberatan karena bulan-bulan januari februari itu kan biasanya curah hujan tinggi ya, kenapa nggak cari kegiatan dan tujuan lain yang indoor aja yaa nggak sih?
Alasannya, tahun sebelumnya sekolah sudah ke Kidzania, jadi tahun ini mau nggak mau harus yang outdoor. Biar variatif gitu. Oke lahh karena tampaknya mereka sudah mencapai mufakat sendiri yaa sebagai peserta saya pun manut aja.

Hari yang dijadwalkan (yang tadinya awal bulan diundur ke akhir bulan karena cuaca masih nggak bersahabat) pun tiba. Pagi itu sekitar jam setengah 7 pagi langsung berangkat ke Cibubur dari sekolah. Syukurlah Alea-Alika sudah sarapan di rumah sebelumnya, karena ternyata bis anak dan ortu/pendamping dipisah, jadi banyak wajah ortu yang waswas anaknya masuk angin apalagi mabuk darat karena nggak sempat sarapan. Cita cita luhur mereka nyuapin anaknya di jalan pun pupus. Akhirnya wanti wanti minta bekalnya dimakan. Yang mana rada mustahil sih buat Alea karena kalau banyak temannya begitu dia lebih senang main atau bercanda di bis hihi.

Perjalanan cukup lancar di hari Kamis itu jadi sekitar jam 8 lebih sedikit sudah sampai di arena KMC, yang ternyata ada di dalam kawasan Buperta Cibubur, tepatnya di kempi 5. Duh ngomongin Buperta bikin flashback memori karena cukup sering dimasa SMP dan SMA saya kemah di sana, mostly dalam rangka eskul PMR mulai dari pengukuhan-pelantikan sampai latihan gabungan se JakBar *tau ngga kepanjangannya apa sodara-sodaraa?*

Sampai di lokasi lalu diminta kumpul di aula, disambut sama om-om dan tante-tante fasilitator *ini dari kacamata anak-anak yah :P* yang keukeuh minta dipanggil kakak, sampai bikin games gimana cara manggil atau sahut panggilan dari mereka. Jadi kalo dibilang “halo” jawabnya musti “hai”, begitu juga sebaliknya. Lucu deh anak-anak sempet bingung jawabnya waktu kakaknya bilang “halo halo hai hai hai halo halo haloo” πŸ˜€

image

Setelah perkenalan itu kemudian lanjut menghias caping. Alea yang memang dasarnya mood-mood an nggak penuh gambarnya πŸ˜€

Gak lama kemudian hujan akhirnya reda, semua anak-anak digiring ke lapangan untuk acara ice breaking yang harusnya sebelum menghias caping tadi itu.

image

Selang beberapa menit, ndilalah gerimis lagi aja dong hihi, anak-anak diminta pake jas hujan lalu dibagi perkelas untuk mengikuti games-games ketangkasan berkelompok yang tentunya didampingi kakak-kakak fasilitator. Kayak meniti jaring, lempar masukkan bola ke lubang papan, masukkan balok ke tiang, jaring bola untuk dimasukkan ke ember air, isi ember sampai penuh dengan pakai spons basah,…
Intinya games motorik kasar lah yaa.

image

image

Acara puncaknya: tentu aja flying fox πŸ˜€
Pas sebelum gilirannya saya dengan antusiasme level pol coba kasih tau ke Alea untuk berani, dan bahwasanya meluncur di flying fox itu seru, aman bin menyenangkan. Syukurlah anaknya pun nggak pake takut dan ternyata minta lagi! Hahaa.

image

Outbond hari itu pun berakhir sudah, sekitar jam 12.30 siang kami meluncur pulang dengan cerita seru anak-anak dan oleh-oleh baju sepatu belepotan tanah semua πŸ˜€

Overall tempat ini cocok sebagai salah satu alternatif liburan outdoor dengan tujuan memupuk keberanian juga melatih sensor motorik anak, lho. Saran saya sih, jangan kesana pas musim hujan ya, becek cyinn! Dan minusnya adalah… toiletnya agak ‘ala kadarnya’ 😦 *yaa standar MCK buperta gitu lah*

Oya, macam permainan atau aktifitas di sana tergantung pilihan ‘kampoeng’ yang kita pilih, ada Kampoeng Permainan, Kampoeng Tradisional, Kampoeng Rasa, Kampoeng Karya dan Kampoeng Petualangan.

Informasi lebih lanjut bisa hubungi:
Telp. 021- 3901575 (hunting)
Fax. 021- 3909826
Email: info@kampoeng-maen.com

Atau monggo cek web mereka di sini.

Dear Alika

image

25 Maret 2014

Selamat ulang tahun putri kecilku, jadilah anak cantik hati yang selalu membawa kebahagiaan bagi sekitarmu, mengingat Tuhan dalam setiap nafasmu dan sejuta hal baik lain yang diharapkan setiap orangtua yaa Nak.

Kehadiranmu memang tak terduga tapi bukan berarti tak istimewa. Kau adalah pejuang tangguh bahkan sejak masih dalam bentuk embrio. Seorang ‘survivor’ di rahim Bunda yang dari awal kehamilan diprediksi kembar tapi ternyata hanya kau yang mampu bertahan. Melewati fase bleeding berulang kali di awal kehamilan, sampai virus cacar air menjelang persalinan.

Kau mengajarkan Bunda kekuatan disaat terpaksa jauh dari Ayah yang harus bekerja nun jauh di Sumatera, bahkan beliau terlambat datang saat kau lahir yang lebih cepat sehari dari due date. Lewat dirimu Allah SWT menitipkan segala berkah dan hikmah yang tak bisa digambarkan satu persatu, semua luar biasa.

Jadilah selalu putri pemimpin yang cerdas namun tetap rendah hati yaa Nak, seperti doa yang kami sisipkan lewat namamu:
“Rayssa Alika Fauzia”

Semoga kau tumbuh jadi anak yang bahagia dan selalu bersyukur atas nikmat Tuhan kepadamu, seperti kami yang bersyukur memilikimu.