[Review] Paddington

Mumpung masih anget, mau (belajar) aah bikin review film. Kebetulan belakangan lagi lumayan sering ajak anak-anak nonton, film keluarga tentunya. Sekalian ngebiasain Alika (almost 4 y.o) sama suasana nonton bioskop, makin kesini sukses sih bisa anteng nggak ngerengek minta pulang sampai film selesai. Walau kalo pas ada adegan berantem, sedih atau suara seram pasti langsung merangsek ke ayah/bunda πŸ˜€

Ok, let’s the review begin:

Alkisah pada suatu masa seorang penjelajah Inggris yang dalam suatu misi menemukan sebuah spesies baru nggak sengaja bertemu sebuah keluarga beruang yang terdiri Uncle Pastuzo, Aunt Lucy dan si keponakan beruang kecil di pedalaman Peru. Disamping segala perbedaan, si keluarga beruang dan si penjelajah bisa ‘saling beradaptasi’ dengan keunikan latar belakang spesies dan kebiasaan mereka masing-masing. Di akhir kunjungannya si penjelajah berucap, kapanpun mereka ke London mereka pasti akan diterima dengan baik layaknya rumah sendiri.

Keluarga itu jadi bisa menguasai bahasa inggris, menyukai dan bisa membuat selai jeruk, bahkan belajar sopan santun ala manusia.

Bertahun tahun hidup dalam kedamaian, kehidupan mereka berubah karena suatu peristiwa yang menyebabkan mereka kehilangan Uncle Pastuzo, membuat si beruang kecil terpaksa harus berpisah dengan Aunt Lucy dan menyelundupkan diri di sebuah kapal menuju London dengan harapan menemukan rumah.

Bersembunyi di kantong surat, ia terdampar di stasiun Paddington di mana ia bertemu keluarga Brown yang akhirnya karena membaca pesan di kalungnya yang tertulis “Please look after this bear, thank you” bersedia membantunya menemukan si penjelajah, dan juga memberinya nama Inggris: Paddington.

Apakah kemudian semuanya berjalan lancar buat Paddington di dunia yang sama sekali baru baginya? Ohoo.. Keseruan baru saja dimulai, dimana Paddington (tentunya) kesulitan beradaptasi karena perbedaan budaya, yang akhirnya membuat Mr. Brown ultimatum istrinya untuk segera kirim Paddington ke pihak berwenang.

Lalu gimana nasib Paddington?
Apa akhirnya dia bisa bertemu si penjelajah? Siapa pula Millicent yang tampak sangat tertarik dengan kedatangan Paddington ke London, apa kaitannya dengan si penjelajah?

Nah daripada dibilang spoiler, monggo nonton aja yaa.. πŸ˜€

image

dari worstpreviews.com, sayang nggak nemu poster yg lagi tayang di Indo

Film adaptasi dari buku fiksi anak-anak karya Michael Bond tahun 1958 yang berdurasi 95 menit ini diisi dengan berbagai emosi, ada lucu, sedih, haru dan bahagia.

Siap-siap juga terpukau sama ‘teknologi’ arsip museum yang mengingatkan kita sama film bertema sihir nan legendaris, Harry Potter.

Sebagai film keluarga agaknya memang lebih cocok menyasar anak yang (minimal) sudah duduk di bangku SD, karena banyak percakapan yang melibatkan emosi perasaan. Ada adegan flirting juga ketika Mr. Brown ‘terpaksa’ menyamar jadi perempuan dan digoda oleh keamanan museum. Juga ada kiss scene antara Mr. Brown dan istrinya. Belum lagi adegan Mrs. Bird tanding minum alkohol. Mungkin disini perlunya ortu menjelaskan soal beberapa adegan tersebut.

Tapi overall, film ini selain menghibur juga membawa pesan moral yang bagus. Khas film klasik komedi keluarga yang hangat. Bahwa dimanapun kita berada, dengan siapapun itu, kebaikan, kesopanan dan kesetaraan kepada sesama mahluk hidup tetap harus dijunjung tinggi.

Advertisements

Hidden Paradise at Sentul Paradise Park

Dalam menggalakkan program wiken tanpa mal sekaligus menuntaskan rasa penasaran akan si air terjun bidadari setelah beberapa temen posting di Path *kumpetitip*, akhirnya terlaksana juga hari ini kami menyambangi Sentul Paradise Park ini.

Rute ke sana ternyata selain sangat menguji driving skill sang supir, juga ketahanan mental navigator lho! *urut urut dada gaya lebay*

Gimana nggak, jalan menuju tempat ini sungguh nggak mudah dengan kontur naik turun yang lumayan curam melewati perkampungan dan selain nggak selalu mulus, juga sempit. Waze nggak bisa jadi andalan, jadi sebaiknya rajin bertanya biar nggak nyasar ya.

Pasalnya setelah lumayan jauh menyusuri jalan setelah exit tol Sentul City kami kok nggak nemu petunjuk arah ke air terjun ini, jadilah nyaris bablas terus ke Jungleland baru tanya-tanya ibu pedagang di pinggir jalan dekat masjid, katanya kudu balik arah lalu ketemu Pos Aju Koramil terus belok kiri. Dan ternyata medannya seperti yang saya gambarin diatas tadi. *elus elus dada lagi*

Buat yang mau kesana ini rutenya yang lebih enak (karena pulangnya saya mbuntuti bis yang ternyata lewat situ hehe): kalau dari Jakarta via Tol Jagorawi keluar Exit Sentul City (Sentul Selatan) belok kiri, bundaran lurus terus, melewati Giant Express 500 meter ada percabangan jalan ambil ke kiri jalan menurun, belok kanan masuk terowongan, ikuti billboard petunjuk arah di setiap persimpangan. Waktu tempuh kurang lebih 45 menit sampai 1 jam untuk sampai di Sentul Paradise Park ini.

Masuk ke area SPP jalannya masih berkerikil dan cukup curam jadi harus extra hati-hati. Sedikit saran, mengingat jalannya yang masih belum bagus, kalau mobilnya sedan kayaknya sayang lho kalau dibawa kesini πŸ˜€

image

Mules selama perjalanan terbayar lunas begitu sampai sini

Tiket masuk perorang diatas usia 2th dikenakan 25rb (Senin-Jumat), 30rb (Sabtu & Minggu) dan 40rb (Hari Libur Nasional). Untuk turis asing tarifnya 50rb/org. Parkir mobil 10rb, sedangkan motor 5rb.

Sore tadi pas sampe sekitar jam setengah 3, cuacanya enak nggak terlalu panas. Begitu sampai parkiran, cek karcis di pintu masuk lanjut meniti anak tangga dan jalan sedikit ke bawah… Voila! kebayar deh semua rasa tegang di perjalanan tadi. Udara sejuk dan pemandangan hijau langsung menyambut kita. Nggak nyangka ada surga tersembunyi di pelosok Sentul πŸ™‚

image

Krucils yang udah excited liat kolam, langsung minta main air. Brrr.. Airnya cukup dingin juga. Agaknya kolamnya memang sengaja diperuntukkan untuk anak-anak, karena cuma sedalam 70cm. Anak-anak harus selalu dalam pengawasan orang dewasa ya, karena selain lantai agak licin tapi juga kolamnya (sayangnya) jadi satu sama yang main perahu.

image

Keliatan sekali memang tempat ini masih minim fasilitas. Entah ini disengaja atau nggak, tapi toilet & kamar ganti yang sedikit plus masih berdinding bambu bikin gak sreg ya nggak sih? Sungguh disayangkan kalau tempat wisata sebagus ini nggak diperhatikan fasilitasnya. Semoga lain waktu kami kesana lagi akses jalannya udah lebih bagus.

Tips buat yang mau liburan ke sini:

– Sebaiknya bawa bekal dari rumah, karena nggak ada tempat makan yang proper di sekitar area SPP. Rata-rata jual mie instan dan bakso. Harga yang dipatok pun jauh lebih mahal.
– Kalau nggak mau keluar extra uang sewa saung (yang dihitung per 2-3jam), lebih baik bawa tikar sendiri. Sewa tikar di sana kena 30ribu lho!
– Lebih baik datang pagi, karena makin
sore makin ramai pengunjung.
– Jangan lupa foto-fotooo! Tapi postingnya ditunda ya, karena di sana sama sekali nggak ada sinyal πŸ˜€

Cerita Lebaran

Halo semuaaa… Apa kabar? *muncul dari dalam gua*

Masih suasana Idul Fitri kan ya. Dari lubuk hati terdalam, mohon dimaafkan segala salah dan khilaf ya, Taqobbalallahu Minna wa Minkum wa Shiyamana wa Shiyamakuum.

Lebaran kemarin kemana aja?

Agenda hari pertama Idul Fitri sejak awal nikah sih biasanya silaturahmi ke Mertua sehabis shalat Ied baru siangnya ke keluarga saya. Cuma 2 tahun ini rutenya berubah karena sejak awal 2013 Mertua pindah ke Ciamis, jadi hari pertama Lebaran kami di Jakarta dulu baru besoknya mudik ke Ciamis.

Lebaran kali ini halal bihalal keluarga saya bertempat di rumah salah satu Om di daerah Serpong. Biasanya Om yang di Bekasi yang jadi tuan rumah, cuma tahun ini skip dulu karena lagi ditinggal anaknya yang lagi dapat beasiswa UI untuk short course di Belgia.

Enaknya tradisi kumpul keluarga besar kayak gini adalah semua anggota keluarga baik yang di tengah kota atau pinggiran (macam saya) kumpul di satu tempat jadi nggak repot wira wiri ke rumah masing-masing lagi kan. Lebih irit tenaga & bensin tapi juga kan lebih rame, hehe.

image

Narsis berdua, anaknya malah sibuk sendiri

Oya, selama nyaris 9 tahun menikah seinget saya baru sekali punya baju Lebaran seragaman sama suami deh, sama anak-anak malah belum pernah. Maklum saya mah anti ribet orangnya, nggak terlalu nafsu jahitin baju atau pesen khusus baju spesial untuk sekeluarga. Padahal mah jujur pengen, hahaa.. Cuma ya seringnya seketemunya yang harganya cocok aja.

Trus satu lagi, saking sibuknya silaturahmi dan makan makanan Lebaran, suka nyesel kenapa selalu kelupaan untuk nggak foto sekeluarga trus posting di semua socmed kayak keluarga masa kini. Kan lumayan buat kenang-kenangan dan pembanding berat badan dari tahun ke tahun ya πŸ˜€ *eh*

Hari kedua Lebaran, saatnya menuju kampung halaman suami di Ciamis. Jam 2.30 pagi saya dan suami kompak bangun, mandi pagi lalu langsung boyong anak-anak masuk mobil. Berharap semakin awal kita berangkat, nggak terlalu macet pula di jalan kan. Jam 5 lewat akhirnya sampai di Rest Area 147 Tol Padaleunyi, sholat subuh dan beli sarapan untuk dijalan. Ternyata keluar rest area udah macet panjang sampai exit tol. Mungkin imbas pemudik yang biasa lewat jalur pantura jadi putar haluan lewat selatan karena ada jembatan ambles. Alhamdulillah perjalanan jauh dan macet berat begitu krucils nggak ada yang cranky apalagi muntah selama perjalanan. Jam 4 sore akhirnya sampai Ciamis. Total jendral 12 jam, yang normalnya cuma separohnya πŸ˜€ *elus elus bujur*

Besoknya selain silaturahmi ke saudara-saudara suami juga sorenya sempat main-main ke alun-alun bareng Eninnya anak-anak. Setiap sore apalagi hari libur, tempat ini nyaris nggak pernah sepi dari berbagai permainan anak dan pedagang kaki lima. Tipsnya jangan datang terlalu sore apalagi malam, bisa bisa harus parkir di pinggir jalan saking penuhnya.

Begitu sampai, anak-anak langsung rikues naik becak cinta. Becak cinta ini kalo malam ramai sama lampu warna warni lho, cantik deh. Bisa pilih, keliling alun-alun digowesin abangnya dengan tarif 20 ribu atau cukup 10 ribu tapi gowes sendiri. Tentunya pilih yang pertama! Hahaa. Kita udah kapok deh sok-sokan gowes sendiri dengan alasan biar irit, setelahnya ngos-ngosan karena meski alun-alun nggak seberapa besar tapi ya tetep aja ternyata capek banget, jendral! πŸ˜€ πŸ˜€

image

Naik becak cinta, main layangan, naik delman domba

Ada satu lagi yang jadi favorit anak-anak di sana, namanya deldom alias delman domba. Yang ini khusus anak-anak aja, karena eh.. karena.. kasian mosok dia harus menanggung berat badan orang dewasa juga, emangnya nggak cukup dia menanggung beban perasaan harus jadi pengganti kuda? *krik krikk*

Sambil nungguin krucils main, nggak lupa ngemil-ngemil cantik. Beli cilok yang disiram bumbu kacang, pas bener buat cemilan sambil menikmati suasana sore di alun-alun.

Pulang dari sana, mampirlah ke salah satu kuliner terkenal di Ciamis yaitu mie gelosor di Warung Baso AGA H. Oding, sekitar 500m dari alun-alun. Kalo menurut lidah saya sih yaa, mienya mirip-mirip lah sama bihun, cuma ini selain warnanya yang kuning (dari tepung tapioka), teksturnya lebih kenyal dan agak tebal sedikit dari bihun. Katanya nih kenapa namanya mie gelosor, karena pas dimakan si mienya itu gelosor-gelosor alias licin. Hahaha.
Yang unik, pelengkapnya selain sambel bawang juga pakai acar mentimun, beuh seger! Baksonya sendiri juga termasuk kecil kecil jadi rasanya pas aja porsinya. Nggak bikin begah. Semangkuk mie baso gelosor harganya 13 ribu rupiah aja.

Kalau mau tambahan pelengkap baso ada sayap ayam dan babat juga, cuma kemarin itu saya nggak coba.

image

Diambil dari diciamis.com

Sebelum pulang, nggak lupa beli buah tangan dulu di Pusat Oleh Oleh Suka Senang, di Km 6 Jalan Raya Ciamis-Banjar. Industri rumahan yang cukup besar di Ciamis karena produknya yang enak dan bermutu baik, juga nggak mahal. Produk utamanya berbahan dasar pisang, diolah jadi keripik dan sale dengan berbagai rasa dan jenis. Sale tetap dibaca sale, bukan berarti dibaca diskon yah πŸ˜€ Mereka juga jual galendo, chocodot, seroja (yang mirip kembang goyang betawi tapi rasanya gurih) dan banyak lagi makanan khas Ciamis lainnya.

Besoknya dalam perjalanan kembali ke Jakarta (padahal ktp domisili Depok tapi kenapa lebih enak nyebut Jakarta ketimbang Depok ya?), kami mampir ke Rumah Makan Cibiuk di daerah Limbangan, Garut. Rejeki banget karena saat itu jam makan siang, dan alhamdulillah nggak penuh.

image

Asik lihat ikan sambil nunggu makanan dianter

Selain konsep ruang makan dengan meja dan kursi di depan, ada juga tempat di saung diatas kolam ikan dan bersebelahan dengan mini playground. Juga ada sentra oleh-oleh di dalamnya.

Oya di sini sambal sifatnya bukan complimentary macam di rumah makan lain, jadi harus pesan lagi. Tapi so far nggak mengecewakan kok. Makanannya enak, servicenya lumayan cepat, musholla dan toiletnya pun bersih. Krucils bahkan numpang mandi sebelum pulang.

image

Makan enak dulu setelah 7 jam perjalanan

Makan berempat dengan menu ayam bambu, tumis genjer oncom, ayam bakar, ikan bawal goreng, tahu kipas, es kelapa, teh manis dan sambal cibiuk seinget saya nggak sampai 200 ribu. Masih cukup wajar lah.

Enaknya mudik lewat jalur selatan itu memang pilihan rumah makannya banyak, tempat dan makanannya enak-enak. Next time mau coba the most recommended resto Pak Asep Stroberi ah, katanya selain tempatnya nyaman & asri banget, banyak permainan anak-anak, juga bisa belajar bikin keramik lho *kemudian berkhayal jadi Demi Moore di film Ghost*

Jadi,… Itu cerita Lebaran ku, apa ceritamu? πŸ˜‰

Kampoeng Maen Cibubur

Jadi, akhir Februari lalu *iyaa iyaaa postingan ini udah telat sebulan*, sekolah Alea ngadain acara outbond di Kampoeng Maen Cibubur. Sebenarnya pas waktu diundang rapat sama ibu-ibu komite untuk bahas tujuannya saya rada keberatan karena bulan-bulan januari februari itu kan biasanya curah hujan tinggi ya, kenapa nggak cari kegiatan dan tujuan lain yang indoor aja yaa nggak sih?
Alasannya, tahun sebelumnya sekolah sudah ke Kidzania, jadi tahun ini mau nggak mau harus yang outdoor. Biar variatif gitu. Oke lahh karena tampaknya mereka sudah mencapai mufakat sendiri yaa sebagai peserta saya pun manut aja.

Hari yang dijadwalkan (yang tadinya awal bulan diundur ke akhir bulan karena cuaca masih nggak bersahabat) pun tiba. Pagi itu sekitar jam setengah 7 pagi langsung berangkat ke Cibubur dari sekolah. Syukurlah Alea-Alika sudah sarapan di rumah sebelumnya, karena ternyata bis anak dan ortu/pendamping dipisah, jadi banyak wajah ortu yang waswas anaknya masuk angin apalagi mabuk darat karena nggak sempat sarapan. Cita cita luhur mereka nyuapin anaknya di jalan pun pupus. Akhirnya wanti wanti minta bekalnya dimakan. Yang mana rada mustahil sih buat Alea karena kalau banyak temannya begitu dia lebih senang main atau bercanda di bis hihi.

Perjalanan cukup lancar di hari Kamis itu jadi sekitar jam 8 lebih sedikit sudah sampai di arena KMC, yang ternyata ada di dalam kawasan Buperta Cibubur, tepatnya di kempi 5. Duh ngomongin Buperta bikin flashback memori karena cukup sering dimasa SMP dan SMA saya kemah di sana, mostly dalam rangka eskul PMR mulai dari pengukuhan-pelantikan sampai latihan gabungan se JakBar *tau ngga kepanjangannya apa sodara-sodaraa?*

Sampai di lokasi lalu diminta kumpul di aula, disambut sama om-om dan tante-tante fasilitator *ini dari kacamata anak-anak yah :P* yang keukeuh minta dipanggil kakak, sampai bikin games gimana cara manggil atau sahut panggilan dari mereka. Jadi kalo dibilang “halo” jawabnya musti “hai”, begitu juga sebaliknya. Lucu deh anak-anak sempet bingung jawabnya waktu kakaknya bilang “halo halo hai hai hai halo halo haloo” πŸ˜€

image

Setelah perkenalan itu kemudian lanjut menghias caping. Alea yang memang dasarnya mood-mood an nggak penuh gambarnya πŸ˜€

Gak lama kemudian hujan akhirnya reda, semua anak-anak digiring ke lapangan untuk acara ice breaking yang harusnya sebelum menghias caping tadi itu.

image

Selang beberapa menit, ndilalah gerimis lagi aja dong hihi, anak-anak diminta pake jas hujan lalu dibagi perkelas untuk mengikuti games-games ketangkasan berkelompok yang tentunya didampingi kakak-kakak fasilitator. Kayak meniti jaring, lempar masukkan bola ke lubang papan, masukkan balok ke tiang, jaring bola untuk dimasukkan ke ember air, isi ember sampai penuh dengan pakai spons basah,…
Intinya games motorik kasar lah yaa.

image

image

Acara puncaknya: tentu aja flying fox πŸ˜€
Pas sebelum gilirannya saya dengan antusiasme level pol coba kasih tau ke Alea untuk berani, dan bahwasanya meluncur di flying fox itu seru, aman bin menyenangkan. Syukurlah anaknya pun nggak pake takut dan ternyata minta lagi! Hahaa.

image

Outbond hari itu pun berakhir sudah, sekitar jam 12.30 siang kami meluncur pulang dengan cerita seru anak-anak dan oleh-oleh baju sepatu belepotan tanah semua πŸ˜€

Overall tempat ini cocok sebagai salah satu alternatif liburan outdoor dengan tujuan memupuk keberanian juga melatih sensor motorik anak, lho. Saran saya sih, jangan kesana pas musim hujan ya, becek cyinn! Dan minusnya adalah… toiletnya agak ‘ala kadarnya’ 😦 *yaa standar MCK buperta gitu lah*

Oya, macam permainan atau aktifitas di sana tergantung pilihan ‘kampoeng’ yang kita pilih, ada Kampoeng Permainan, Kampoeng Tradisional, Kampoeng Rasa, Kampoeng Karya dan Kampoeng Petualangan.

Informasi lebih lanjut bisa hubungi:
Telp. 021- 3901575 (hunting)
Fax. 021- 3909826
Email: info@kampoeng-maen.com

Atau monggo cek web mereka di sini.

Bandung (Lagi)

*lap lap blog berdebu*

Maap yah kamu udah lama banget nggak ditengokin. Alasan susah cari mood dan waktu kayaknya dijadiin kambing hitam mlulu ya. Padahal mah ngecek dan apdet social media aja sempet. Apalagi mantengin lapak ols di Instagram.

*toyor kepala sendiri*

Jadi, apa aja kabar terbaru di tahun baru?

Alhamdulillah, setelah ‘riak kecil’ kemarin, awal tahun ini ada berita baik bagi keluarga kami. Dan atas peristiwa yang cukup menguras pikiran akhir tahun lalu itu akhirnya kami (tepatnya saya merongrong suami demi diskonan voucher disdus sih) ‘menebusnya’ dengan holiday singkat dadakan ke Bandung.

Hah, Bandung lagi? Ya soalnya kalo ke yurop masih belum mampu πŸ˜€
*linting daster*

2 Januari, perjalanan Pamulang-Bandung so far cukup lancar karena orang-orang masih banyak yang liburan ya. Sampai di Hotel Grand Serela Setiabudhi atau kadang biasa juga disebut Grand Seriti hampir setengah 3 sore. Kenapa end up nginep di sini karena oh karena, pas kebetulan banget di disdus lagi ada voucher promonya setengah harga jadi nggak sampai 600rb/malam untuk kamar Deluxe nya.
*emak irit (tadinya) senang eh belakangan sering banget di emailin promo kamarnya mereka di harga segitu juga*

Pas sampai, agak kecewa deh karena kamar masih diberesin dan disaranin jalan-jalan dulu aja nanti ditelpon kalo kamarnya udah siap kurleb sejam kemudian. Akhirnya ngetem lah kami di McD Setiabudi. Sampai jam 4 lewat belum ada kabar juga dari hotel, padahal krucils udah kepengen banget mandi dan leyeh-leyeh main di kamar. Kami juga harus shalat ashar kan. Akhirnya balik aja langsung ke hotel dan itupun masih harus nunggu 10 menitan sampai akhirnya dipandu ke kamar.

Denah hotelnya cukup ngebingungin sih, dari lobby kami naik lift dulu ke lantai satu trus jalan ke arah restoran sekitar 30m di lantai 2 lalu naik lift lagi ke lantai 3. Sampai di kamar, capek dan sedikit bete sebelumnya cukup terbayarkan karena kamarnya yang luas dan nyaman. Kurangnya cuma gak bisa nitip minuman dingin di mini bar karena ternyata nggak ada, hihi. Oh, dan juga penerangan di koridor kurang terang jadi kesannya suram.

image

Deluxe room yang spacious dan cozy

Breakfast was okay. Cukup variatif lah tapi IMO rasa terbilang biasa aja. Kelar sarapan langsung berangkat ke pusat sepatu murah nan heits: Cibaduyut!

Memasuki Grutty, salah satu toko yang kabarnya terlengkap dan terbesar di kawasan itu, mata udah langsung jelalatan ke sana kemari cari sepatu & sandal untuk diadopsi. Suami berakhir dengan beli sepatu kulit baru yang paling mahal diantara kami berempat. Tapi masih dibawah 300ribu sih, jadi itungannya masih murah ya kan? Saya cukup happy nenteng dua pasang sandal seharga total 90ribu aja. Sementara dua anak kecil itu dapat sepatu masing-masing cuma 30ribu aja dong πŸ˜€

Puas belanja dan cuci mata di Cibaduyut, perhentian selanjutnya ke… Paris Van Java.

Yeah, I know.. kesannya kok bosen banget ya mosok udah jauh-jauh ke Bandung mentoknya ke mal lagi. Barangkali ada yang belum tahu, di rooftop salah satu mal ter-heits se Bandung itu ada sarana rekreasi keluarga juga lho.

Lactasari Mini Farm, peternakan mini di PVJ ini kabarnya udah ada sejak Agustus 2011. Versi mininya dari peternakan aslinya di daerah Padalarang sana. Cukup dengan HTM 50ribu/anak yang langsung ditukar dengan sekeranjang sayuran dan sebotol susu, anak-anak bisa merasakan kasih makan hewan kayak kelinci, kambing dan domba. Pulangnya masih dapat free susu segar asli produksi mereka pula. Detailnya bisa baca di sini.

image

Lactasari Farm, Paris Van Java

Selain Mini Farm ini ada juga taman dan arena bermain ice skating. Alea sempat nyoba belajar ditemani pelatih selama setengah jam, dan setelahnya sempet nangis karena nyoba meluncur dan… jatuh. Hahaha. Kayaknya udah nggak sabaran pengen meluncur padahal belum bisa.

Kelar maksi dan take away penganan buat malam nanti, balik ke hotel deh dan ajak anak-anak berenang sore. Saya sempat kecele waktu liat ada snack corner di pinggir pool, kirain compliment taunya mbayar 10ribuan buat popcorn dan juicenya. Huahaha. Kamseu daaah..

*tutup muka pake jilbab*

image

Oya, besoknya sebelum check out anak-anak sempat main di so-called playground hotel yang rada seadanya, yang ada di samping lobby dan di dekat parkiran. Saya cukup waswas mikir kalo ada anak ngeluyur ke parkiran dan pas ada mobil lewat deh*parnoan*

image

Jadi, begitulah kami menghabiskan libur tahun baru. Semoga nggak peduli kemanapun kita pergi asal dengan kumpul sama-sama tanpa kurang suatu apapun juga kalian tetap happy yaa, Nak. Insya Allah next time bisa liburan lebih lama lagi dan ke tempat-tempat yang jauh lebih seru lagi yaa πŸ˜€

Having Fun at Playtime

Pertama kali tau soal si Playtime ini dari Motiq yang sebelumnya posting di Path. Kebetulan suami juga masih cuti sehabis lebaran kemarin, sepakat lah kami menjajaki playground baru ini sekalian cuci mata di Lotte Mall Bintaro minggu lalu.

Dibagi jadi 13 zona permainan, antara lain: Sand Art, Music Play, Automotive Play, Bubble Zone, Camping Play, Baby Zone, Car Bounce, Play Zone, Large Roller Ball, Gomdori Playzone, Pets Rider, Market Play dan Blok Zone, playground ini cukup luas dan juga bersih. Mungkin juga karena terbilang baru, mainannya pun keliatan masih sangat apik dan terawat.

image

image

Buat yang mau buat acara ultah di sini juga disediakan ruangan sendiri. Cuma mungkin soal makanan tetap harus di luar atau bagi goody bag aja kali ya, soalnya di dalam area nggak ada resto dan dilarang makan dan minum.

Di kanan pintu masuk ada ruangan yang isinya rak-rak sepatu dan juga ada layar tv yang terhubung ke banyak cctv di dalam playground, jadi anak-anak yang main tetap bisa terpantau dari meja kasir dan area tunggu.

image

Tiket masuknya 50 ribu/jam per anak di hari biasa. Untuk weekend harus minimal 2 jam jadi 80 ribu/anak, tapi untuk jam selanjutnya cuma jadi 30 ribu saja. 1 orang pendamping bebas tiket masuk. Tambahan pendamping kena 20 ribu rupiah per orang.

Seperti indoor playground pada umumnya, di sini anak-anak dan pendamping wajib pakai kaos kaki. Kalo nggak bawa, bisa sekalian beli di kasir depan dengan harga 10 ribu.

Kemarin karena belum tau mood anak-anak sama tempat baru itu gimana, dan karena udah deket waktu makan siang, akhirnya kami beli untuk sejam aja. Saya ikut dampingi sekalian dokumentasi bahan ngeblog, sementara Ayahnya nunggu sambil leluasa main hape di area tunggu di belakang kasir. Biar irit, katanya *cubit*

image

Selesai bayar, masing-masing anak ditempeli stiker bertulis nama dan jam berapa mereka selesai. Begitu kelar taruh sepatu di rak, anak-anak langsung semangat lari ke area belakang. Ternyata pada asyik main di zona Music Play. Alika dari pertama kali pegang, nggak mau move on dari gitar. Sementara Alea sibuk eksplor mulai dari piano sampai drum.
Mungkin kelak mereka bisa melanjutkan cita-cita Bunda nya jadi vokalis band πŸ˜€

image

Di sana setiap area permainan dipisah dengan sekat-sekat yang cukup tinggi (buat anak), jadi kalo nggak anak dengan daya eksplor tinggi atau pendampingnya yang coba ajak ke area lain, mungkin anaknya bakal main di situ-situ aja kayaknya.

Pertama masuk saya udah tertarik sama zona Sand Art. Ceritanya dapur, kumplit dengan mainan kitchen setnya *ini obsesi emaknya bangeet*
Cuma agak sedikit heran kenapa disatuin sama lahan buat main pasir ya. Jadi ada aja anak yang mainnya masukkin pasir ke sink mainan di situ. Yaah mampet dong πŸ˜€

Oiya buat yang mau main pasir, disedain juga boots anak dengan berbagai ukuran di depan area ini. Jadi aman nggak usah takut (kaos) kakinya kotor.

image

Toilet di dalam playground keliatan bersih. Juga ada wastafel di area Bubble Zone untuk anak yang habis main gelembung sabun jadi bisa langsung cuci tangan sendiri.

Yang paling diminati duo gadis itu selain zona Music kayaknya area Market Play, mereka senang banget gantian masukkin barang ke trolley mini sementara yang satu jadi kasir. Nah ini lagi-lagi nurun emaknya banget, hobi belanja πŸ˜€

image

Tapi kayaknya nyaris semua zona di sana bikin mereka betah berlama-lama main dan sempet agak susah disuruh udahan begitu disamperin mas-mas crew yang kasih tau waktu mainnya udah selesai. Waktu sejam sungguh nggak terasa. Jangankan anaknya, yang nemenin pun betah karena nyaman dan aman jadi ngawasinnya lebih less effort hihi.

Anak-anak masih semangat cerita apa aja yang mereka mainin hari itu sesampainya di rumah, bahkan sampai beberapa hari sesudahnya. Oke deh Nak, nanti kapan-kapan kita agak lamaan ya main lagi ke sana πŸ˜‰ *ngorek-ngorek dompet*

image

Playtime
Lotte Mart Bintaro, Lt.1
Jl. MH Thamrin, Bintaro Jaya
CBD Area Kav – Blok B7/01-06
Sektor VII, Tangerang Selatan
Telp. 021-71203335

Bandung Getaway

Lagi-lagi postingan basi yang seharusnya ditulis berminggu-minggu lalu. Tapi biar deh ya, daripada enggak πŸ˜€

Akhir Juni lalu, saya dan anak-anak diajak suami yang lagi tugas ngaudit ke Bandung. Sebenarnya dalam rangka dia tour the west java juga 2 minggu sebelumnya muter ke Bandung, Cirebon, Tasik trus balik ke Bandung lagi buat closing report. Tadinya sempat ragu karena si bungsu baru aja sembuh dari campak, tapi hati sakaw perubahan suasana dan mikir kapan lagi bisa liburan di hotel gratisan, ya kan… jadi mantapin hati untuk ikut deh πŸ˜€ *nggak tau malu*

Jumat sore itu check in di Holiday Inn Bandung. Overall kamarnya cukup luas dan nyaman, ada tv kabel, mini fridge, teko untuk masak air panas. Breakfastnya juga enak dan variatif. Mau western atau asian food, banyak pilihan. Staffnya juga helpful dan ramah sekali. Dan… wifi di kamar kenceng! *super penting*

Happy suami bisa dapat hotel ini karena termasuk salah satu hotel favorit di list #BandungForKids versi @LiburanAnak karena ada playgroundnya. Sayang kemarin itu pas lagi direnovasi, jadi anak-anak sehari-hari selama hampir seminggu kami stay di sana itu cukup dihibur dengan mandi busa di bathtub pake air hangat. Nggak berani ngajakin renang di pool nya karena brrr.. dingin!

Besoknya, sekitar jam 10 pagi udah sampai di Floating Market Lembang. Tiket masuk ber 4 seharga 45ribu saja sudah termasuk parkir. Karcisnya bisa langsung ditukar welcome drink di depan, atau bisa juga di area tempat makan. Bisa pilih milo atau kopi nescafe panas, atau nestea dingin.

Oh iya yang unik di sini, sistem pembayarannya pakai koin yang segede koin karambol itu lho. Cuma sayangnya, kalo kita kebanyakan tukar uang, nggak bisa refund alias tukar lagi jadi uang 😦
Jadi mending tukar sedikit dulu aja, kalau kurang kan bisa tuker di beberapa kios penukaran uang di dalam.

Di dalam area FML, ada juga arena permainan/aktivitas buat anak dan keluarga. Anak-anak kecil bisa kasih makan angsa dan kelinci, petik strawberry. Ada juga sewa mobil-mobilan/skuter macam di mal ITC gitu. Yang gedean bisa main ATV, flying fox. Beberapa permainan baru dan rumah-rumahan diatas danau juga lagi dibangun, pasti nanti makin bagus deh.

Di area makan, baru deh tau kenapa dinamakan floating market, yaa karena pedagangnya semua jualan di atas perahu! Sementara pembeli cukup order dan transaksi dari darat yang sekaligus buat area makan. Dari ujung ke ujung wangi masakan menggoda buat dipesan.

Baru sempat order potato twist, niat luhur mau makan santai sambil liat danau sebelum rame jam makan siang, terganggu sama duo gadis yang terus merajuk minta naik perahu. Okelah, your wish is our command.

image

Kelar uji nyali naik perahu yg harga sewanya 70rb/30 menit (jujur selama itu saya parno banget takut perahunya terbalik, huahaha), akhirnya kami cuma keliling-keliling area FML. Alea sempat beli rumah-rumahan untuk keong, tapi nggak sama keongnya. Dia belum ngerti gimana konsep punya binatang piaraan kayaknya.

Hari Minggu nya, bangun agak siang dan agak malas pergi jauh-jauh, jadi rencana ke De Ranch atau Rumah Sosis dicoret. Kelar sarapan langsung ke Taman Lalu Lintas aja. Sengaja hari itu naik angkot biar makin seru.

Dan, ternyata taman ini tuh luaas ya!

HTM murah meriah hanya 6rb perak, aneka permainan pun mulai 4rb saja.
Anak happy, ortu lebih senang karena irit!
Cuma mungkin karena murah itulah, sayangnya banyak wahana permainan yang keliatan kurang terawat. Kereta api yang kami tumpangi sempet mogok beberapa kali, untung nggak sampe perlu ikutan dorong, haha πŸ˜€

Tapi bahagia ditengah gempuran mal dan FO, masih bisa nemu taman asri di tengah kota begini.
Semoga pemkot Bandung (juga kota-kota lainnya!) bisa konsisten menjaga dan merawat tempat-tempat hiburan keluarga berkonsep outdoor dan edukatif kayak gini yaa.

Jadi begitulah sedikit cerita liburan yang nggak bisa dibilang singkat juga karena total jendral 6 hari kami di Bandung, cuma di hari kerja seringnya keluar sore aja sekalian makan malam sepulang suami ngantor. Sempat ke beberapa FO juga sekadar memuaskan hasrat belanja, walau ujung-ujungnya tetap banyakkan buat 2 anak gadis itu. Sayang anak.. sayang anak..
Tapi yang paling bikin hepi tentunya Alika makin keliatan seger dan lahap makannya selama di sana. Berarti memang kudu sering-sering liburan nih, haha *modus*