Euforia Mudik

Istilah mudik yang katanya lahir dari bahasa Jawa “mulih dhisik” yang artinya “pulang dulu”, adalah kegiatan perantau / pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Biasanya memanfatkan momen hari raya lebaran yang disediakan pemerintah libur cukup panjang. Entah sejak kapan tradisi mudik ini ada, yang pasti sudah pemandangan umum jelang lebaran berbagai stasiun TV serentak kasih laporan aktifitas para pemudik pulang ke kampung halaman dengan berbagai moda transportasi.

Saya sendiri bukan dari keluarga yang biasa dengan tradisi mudik lebaran. Karena Alm.Bapak (dan beberapa om) bertugas di kepolisian jadi nggak memungkinkan untuk mudik di hari lebaran. Jadi biasanya mudik justru sebelum puasa untuk nyekar alias ziarah, tapi momennya tentu aja beda karena nggak seramai di hari raya.

Sampai kami sempat tinggal di Palembang di 2011, akhirnya ngerasain juga yang namanya mudik lebaran. Berburu tiket pesawat 2-3 bulan sebelumnya. Berjam-jam menempuh jalan darat dari Muara Enim, menginap semalam di Palembang untuk terbang esok harinya ke Jakarta.

Sekarang udah stay lagi di Jakarta, kami punya rute mudik baru ke kampung halaman suami di Ciamis, karena sudah 2 tahun ini mertua dan adik bungsunya sekarang tinggal di sana. Rute yang normalnya bisa ditempuh 6 jam bisa molor sampai nyaris 2x lipatnya kala lebaran.

Soal mudik ini memang sering mengundang tanda tanya bahkan ada yang nyinyir, kenapa sih banyak yang ‘maksa’ mudik jarak jauh pakai motor? Kenapa rela bermacet-macet berjam-jam bahkan berhari-hari lewat jalan darat? Kenapa rela berdesakan di kereta/bus yang pengap? Kenapa sampai rela membahayakan nyawa demi kumpul dengan keluarga?

image

Status Path suami yang bisa pas bener dengan postingan ini

Sementara bagi sebagian orang fenomena mudik adalah sebuah euforia pemborosan waktu tenaga dan uang, bagi yang merasakan harus hidup & kerja jauh dari keluarga dan sanak saudara mudik di hari raya adalah momen tak ternilai dimana bisa berkumpul lagi dengan keluarga besar sambil bertukar cerita dan berbagi sedikit rezeki.

Bagi yang mudik, ingat untuk stay safe dan jaga kondisi. Apalagi yang lewat jalan darat, patuhi lalin dan jangan malas istirahat sejenak kalo dirasa badan sudah lelah! Keselamatan jauh lebih penting ketimbang yang lain. Insya Allah segalanya dimudahkan apalagi niat kita baik untuk bersilaturahmi ke orang tua & sanak saudara.

Buat yang masih nggak ngerti kenapa sebegitunya orang-orang berbondong-bondong mudik, coba pahamilah ini saja: kita nggak akan pernah tau berapa lama lagi kita ada umur untuk bisa ketemu keluarga. Mereka hanya mencoba memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Bisakah sedikit berempati?

Selamat Mudik 🙂

Taman Wisata Matahari

Haiiii… Lama yaa tak jumpa! *kibas kibas kemoceng*

Liburan sekolah kali ini pas banget sama bulan Ramadan. Tapi sebagai keluarga yang hobinya jalan-jalan, kok ya rasanya rugi amat kalo puasa malah males-malesan di rumah.
Catet: yang males-malesan itu hanya berlaku untuk anggota keluarga yang lain, bukan emaknya 😀 *curcol*

Rabu 9 Juli pas banget libur dalam rangka pilpres, kelar nyoblos langsung deh kasak kusuk berdua suami rencana mau kemana. Nyeletuk lah saya, soal keinginan main ke Puncak. Ehh (anehnya) disambut antusias sama suami. Hahaha. Salah ngomong sama orang yang lebih doyan jalan lagi dari saya.

Lalin lancar sangat di hari ini. Pamulang – Puncak makan waktu 2,5 jam saja, sodara-sodara! Mungkin faktor pilpres dan bulan puasa kali ya. Lagipula karena wikdey jadi nggak ada jam buka tutup jalur.

Jam setengah 1 siang kita sampai di Masjid Atta’awun buat shalat dzuhur. Believe it or not, seumur hidup ini pertama kali menginjakkan kaki ke the legendary mosque. Dari pelataran masjid kami nikmati udara sejuk sambil liat beberapa yang terjun payung dari riung gunung. Sungguh terpesona sama viewnya. Subhanallah.

image

Si adek salah kostum sendiri. Dingin padahal!

Selesai dari sana, sambil turun kita bingung lagi mau kemana. Mana jam buka masih lama. Hahaha. Bener-bener keluarga go show. Akhirnya sepakat turun sambil cari makan siang untuk anak-anak karena emaknya gak sempat ngebekal. Alea libur dulu puasanya karena lagi batuk. Ternyata sepanjang jalur puncak semua warung dan resto tutup dan baru buka jam 4 sore! Salut, takjub dan heran sih sebenernya, sementara di daerah lain biasanya pada buka normal dan (walaupun ditutup kain) keliatan banyak bener yang makan 😀

Akhirnya diputuskan coba sekalian ke Taman Wisata Matahari yang lokasinya nggak jauh dari Cimory resto. Kalau dari arah ciawi posisinya ada di kiri jalan. Alhamdulillah nemu resto fast food yang buka juga di dalamnya.

Jangan heran kalo banyak liat logo Matahari department store di area yang kabarnya seluas 20 hektar ini ya, karena pemilik tempat rekreasi ini adalah juga pendiri usaha Matahari Group.

Berbagai fasilitas wisata ada di sini, kayak; villa dan penginapan, kolam renang, wisata air, wisata sungai, paddle boat, mini boat, bumper boat, mobil & motor safari, ATV off road, arena bermain anak, komidi putar, dan masih banyak lagi.

Karena kemarin termasuk weekday, tiket masuk cuma Rp10,000/orang. Sedangkan weekend dan hari libur nasional dikenakan Rp15,000/orang. Anak dengan tinggi di bawah 80cm gratis. Parkir mobil sepuasnya hanya 5000.

image

Jalur masuknya sedikit menantang sih untuk mobil (apalagi yang rada gede) karena bener bener sempiiit! Pas untuk satu mobil dan kanan kiri (bahkan ditengah jalan) ada pohon dan pembatas batu. Mungkin sebenarnya harusnya buat pejalan kali kali ya, tapi kalo jalan dari parkiran ke dalam kok ya jauh banget.

Di tiket masuknya tertera udah termasuk gratis beberapa permainan kayak sepeda wisata, perahu karet, paddle boat dan sepeda air. Tapi anehnya pas kami coba naik sepeda air dibilang tiketnya nggak termasuk terusan jadi harus bayar lagi 5000 rupiah per orang. Ya demi nyenengin anak yang ngerengek pengen naik, akhirnya bayar aja deh.

image

image

image

Sayang mungkin karena puasa, banyak wahana yang nggak beroperasi. Petugas pun jarang yang keliatan. Beberapa wahana keliatan kotor dan kurang terawat, termasuk area playground yang entah kenapa nggak dilapisi matras. Jadi rentan anak luka kalo main dan jatuh ke lantai. Beberapa tempat juga masih dalam tahap renovasi/pembangunan.

Cuma untuk alternatif tempat rekreasi murah meriah bersama keluarga dan foto-foto boleh lah. Mungkin suatu hari kami balik lagi dan bisa nyoba semua wahana yang ada 😀

image

image

Taman Wisata Matahari
Jl. Raya Puncak Km77
Jogjogan Cisarua
Kota Bogor 16750
http://tamanwisatamatahari.co.id/

Horeee… Lulus!

….lulus sekolah mengemudi! Heuheu..

image

Selfie setir sambil dilirik2 mas instruktur :p

Tinggal ngumpulin mental (dan tentu aja restu suami yang serba kuatiran mobilnya istrinya kenapa-kenapa di jalan) supaya berani dan makin lancar bawa mobil sendiri nih!

*pasang iket kepala*

Screen-Time Diet

Postingan ini udah nongkrong hampir setengah tahun di draft, kebanyakan mikir ‘posting-enggak-posting-enggak’. Lah tapi mengacu pada blog aing kumaha aing *lirik ndutyke*, mudah-mudahan aja jadi sharing yang bermanfaat buat sesama ortu 🙂

Jadi sekitar paruh akhir 2012 lalu, saya minta suami sebagai hadiah ultah beli komputer tablet berbasis android. Niat awalnya memang jadi salah satu sarana hiburan saya; ya buat main game masak-masakkan dari diner dash sampai restaurant story, satu-dua aplikasi ceting, sosmed atau (kadang-kadang) ngeblog. Lama-lama karena udah makin nyaman dengan ‘mainan baru’, akhirnya memang saya say good bye ke smartphone sejuta umat alias BB dan tablet ini jadi berperan penuh sebagai alat komunikasi juga.

Nggak kegedean?

Awalnya sik iya. Tapi karena waktu itu kami di Palembang lebih banyak di rumah, saya nggak pernah bawa keluar apalagi kalo pergi jarak dekat dan sebentar.
Untuk urusan sms dan telepon cukup puas dengan hape gsm murmer bonus dari beli si tablet pun.

Dari seringnya pegang dan ubek-ubek Play Store, tahu sendiri lah ya di sana bertebaran aplikasi gratisan sampai berbayar, dari games sampai app bernilai edukatif untuk keluarga.

Disinilah kami sedikit banyak akhirnya ‘memperkenalkan’ komputer tablet ini ke Alea, (waktu itu) 3,5th. Awalnya hanya install aplikasi belajar mewarnai, menggambar, membaca, lagu hingga game memory untuk anak-anak.

Memang awalnya juga nggak setiap waktu dikasih, tapi makin lama seakan dia terlalu attached dengan gadget satu ini. Kadang lebih milih diam di rumah main tablet, daripada keluar main sore misalnya. Hal yang sama juga terjadi kalo udah duduk nonton salah satu saluran anak-anak di tv berbayar. Harus perang urat dulu kalau minta dia udahan. Dan itu berlanjut sampai kami pindah lagi ke Jakarta, eh.. Pamulang ding. Kontrol yang lemah dari saya dan suami berperan besar sih sama habit barunya itu. *tutup muka*

Okay, now you can judge me.

*nyengir*

Makin kesini ada perasaan waswas juga kalau terlalu lama dibiarin, pasti bakal banyak efek negatifnya kan. Padahal menurut artikel-artikel parenting yang saya baca, batas waktu ‘screen time’ balita itu katanya maksimal cuma 2 jam sehari. Lebih dari itu, dikhawatirkan perkembangan sosial dan emosionalnya terganggu.

Nah, daripada makin kebablasan, akhirnya sepakat berdua suami, tablet hanya boleh pakai pas weekend aja. Dan harus ijin dulu. TV masih boleh tiap hari tapi cuma sore selepas dia ngaji sampai adzan maghrib. Tapi seringnya saya ajak anak-anak main di luar atau undang temannya main di rumah.

image

Wiken saat jalan bareng berempat pun saya usahakan nggak bawa tablet jadi otomatis anak-anak main gadget cuma pas di rumah. Saya coba alihkan ke yang lain, beli buku atau majalah misalnya. Mainan (kadang) boleh dengan syarat dan ketentuan 😀

Kasih kebiasaan baru memang nggak gampang, tapi gimana soal konsisten kitanya aja kok ternyata. Dan kreatif cari kegiatan yang lain juga sih ya.

Sekarang, apalagi udah kenal konsep hari bulan tahun, alhamdulillah Alea (5th+) sekarang udah ngerti sendiri rutinitas hariannya. Mana yang bisa dilakuin saat hari sekolah dan mana yang cuma bisa di saat wiken.

Sisi positifnya: saya perhatikan tantrumnya berkurang, sosialisasinya membaik, komunikasi ke kami orangtuanya juga lebih enak diajak kompromi. Udah lebih ngerti kalau dikasih tau kenapa nggak boleh begini dan begitu. Saya (berusaha) tegas dan kasih alasan jelas, bukan ngomel gak ada juntrungan. Yaa walau sering juga merepet sih hihi. *bekep mulut*

Di jaman serba canggih kayak sekarang kita memang nggak bisa selamanya ya menahan anak supaya gak kenal teknologi sama sekali, lha wong hari gini aja anak TK udah belajar pake laptop lhooo!
Tapi kita bisa kok buat anak gak gaptek dan tetap tau batasan menggunakannya 🙂

Kampoeng Maen Cibubur

Jadi, akhir Februari lalu *iyaa iyaaa postingan ini udah telat sebulan*, sekolah Alea ngadain acara outbond di Kampoeng Maen Cibubur. Sebenarnya pas waktu diundang rapat sama ibu-ibu komite untuk bahas tujuannya saya rada keberatan karena bulan-bulan januari februari itu kan biasanya curah hujan tinggi ya, kenapa nggak cari kegiatan dan tujuan lain yang indoor aja yaa nggak sih?
Alasannya, tahun sebelumnya sekolah sudah ke Kidzania, jadi tahun ini mau nggak mau harus yang outdoor. Biar variatif gitu. Oke lahh karena tampaknya mereka sudah mencapai mufakat sendiri yaa sebagai peserta saya pun manut aja.

Hari yang dijadwalkan (yang tadinya awal bulan diundur ke akhir bulan karena cuaca masih nggak bersahabat) pun tiba. Pagi itu sekitar jam setengah 7 pagi langsung berangkat ke Cibubur dari sekolah. Syukurlah Alea-Alika sudah sarapan di rumah sebelumnya, karena ternyata bis anak dan ortu/pendamping dipisah, jadi banyak wajah ortu yang waswas anaknya masuk angin apalagi mabuk darat karena nggak sempat sarapan. Cita cita luhur mereka nyuapin anaknya di jalan pun pupus. Akhirnya wanti wanti minta bekalnya dimakan. Yang mana rada mustahil sih buat Alea karena kalau banyak temannya begitu dia lebih senang main atau bercanda di bis hihi.

Perjalanan cukup lancar di hari Kamis itu jadi sekitar jam 8 lebih sedikit sudah sampai di arena KMC, yang ternyata ada di dalam kawasan Buperta Cibubur, tepatnya di kempi 5. Duh ngomongin Buperta bikin flashback memori karena cukup sering dimasa SMP dan SMA saya kemah di sana, mostly dalam rangka eskul PMR mulai dari pengukuhan-pelantikan sampai latihan gabungan se JakBar *tau ngga kepanjangannya apa sodara-sodaraa?*

Sampai di lokasi lalu diminta kumpul di aula, disambut sama om-om dan tante-tante fasilitator *ini dari kacamata anak-anak yah :P* yang keukeuh minta dipanggil kakak, sampai bikin games gimana cara manggil atau sahut panggilan dari mereka. Jadi kalo dibilang “halo” jawabnya musti “hai”, begitu juga sebaliknya. Lucu deh anak-anak sempet bingung jawabnya waktu kakaknya bilang “halo halo hai hai hai halo halo haloo” 😀

image

Setelah perkenalan itu kemudian lanjut menghias caping. Alea yang memang dasarnya mood-mood an nggak penuh gambarnya 😀

Gak lama kemudian hujan akhirnya reda, semua anak-anak digiring ke lapangan untuk acara ice breaking yang harusnya sebelum menghias caping tadi itu.

image

Selang beberapa menit, ndilalah gerimis lagi aja dong hihi, anak-anak diminta pake jas hujan lalu dibagi perkelas untuk mengikuti games-games ketangkasan berkelompok yang tentunya didampingi kakak-kakak fasilitator. Kayak meniti jaring, lempar masukkan bola ke lubang papan, masukkan balok ke tiang, jaring bola untuk dimasukkan ke ember air, isi ember sampai penuh dengan pakai spons basah,…
Intinya games motorik kasar lah yaa.

image

image

Acara puncaknya: tentu aja flying fox 😀
Pas sebelum gilirannya saya dengan antusiasme level pol coba kasih tau ke Alea untuk berani, dan bahwasanya meluncur di flying fox itu seru, aman bin menyenangkan. Syukurlah anaknya pun nggak pake takut dan ternyata minta lagi! Hahaa.

image

Outbond hari itu pun berakhir sudah, sekitar jam 12.30 siang kami meluncur pulang dengan cerita seru anak-anak dan oleh-oleh baju sepatu belepotan tanah semua 😀

Overall tempat ini cocok sebagai salah satu alternatif liburan outdoor dengan tujuan memupuk keberanian juga melatih sensor motorik anak, lho. Saran saya sih, jangan kesana pas musim hujan ya, becek cyinn! Dan minusnya adalah… toiletnya agak ‘ala kadarnya’ 😦 *yaa standar MCK buperta gitu lah*

Oya, macam permainan atau aktifitas di sana tergantung pilihan ‘kampoeng’ yang kita pilih, ada Kampoeng Permainan, Kampoeng Tradisional, Kampoeng Rasa, Kampoeng Karya dan Kampoeng Petualangan.

Informasi lebih lanjut bisa hubungi:
Telp. 021- 3901575 (hunting)
Fax. 021- 3909826
Email: info@kampoeng-maen.com

Atau monggo cek web mereka di sini.

Dear Alika

image

25 Maret 2014

Selamat ulang tahun putri kecilku, jadilah anak cantik hati yang selalu membawa kebahagiaan bagi sekitarmu, mengingat Tuhan dalam setiap nafasmu dan sejuta hal baik lain yang diharapkan setiap orangtua yaa Nak.

Kehadiranmu memang tak terduga tapi bukan berarti tak istimewa. Kau adalah pejuang tangguh bahkan sejak masih dalam bentuk embrio. Seorang ‘survivor’ di rahim Bunda yang dari awal kehamilan diprediksi kembar tapi ternyata hanya kau yang mampu bertahan. Melewati fase bleeding berulang kali di awal kehamilan, sampai virus cacar air menjelang persalinan.

Kau mengajarkan Bunda kekuatan disaat terpaksa jauh dari Ayah yang harus bekerja nun jauh di Sumatera, bahkan beliau terlambat datang saat kau lahir yang lebih cepat sehari dari due date. Lewat dirimu Allah SWT menitipkan segala berkah dan hikmah yang tak bisa digambarkan satu persatu, semua luar biasa.

Jadilah selalu putri pemimpin yang cerdas namun tetap rendah hati yaa Nak, seperti doa yang kami sisipkan lewat namamu:
“Rayssa Alika Fauzia”

Semoga kau tumbuh jadi anak yang bahagia dan selalu bersyukur atas nikmat Tuhan kepadamu, seperti kami yang bersyukur memilikimu.

Bandung (Lagi)

*lap lap blog berdebu*

Maap yah kamu udah lama banget nggak ditengokin. Alasan susah cari mood dan waktu kayaknya dijadiin kambing hitam mlulu ya. Padahal mah ngecek dan apdet social media aja sempet. Apalagi mantengin lapak ols di Instagram.

*toyor kepala sendiri*

Jadi, apa aja kabar terbaru di tahun baru?

Alhamdulillah, setelah ‘riak kecil’ kemarin, awal tahun ini ada berita baik bagi keluarga kami. Dan atas peristiwa yang cukup menguras pikiran akhir tahun lalu itu akhirnya kami (tepatnya saya merongrong suami demi diskonan voucher disdus sih) ‘menebusnya’ dengan holiday singkat dadakan ke Bandung.

Hah, Bandung lagi? Ya soalnya kalo ke yurop masih belum mampu 😀
*linting daster*

2 Januari, perjalanan Pamulang-Bandung so far cukup lancar karena orang-orang masih banyak yang liburan ya. Sampai di Hotel Grand Serela Setiabudhi atau kadang biasa juga disebut Grand Seriti hampir setengah 3 sore. Kenapa end up nginep di sini karena oh karena, pas kebetulan banget di disdus lagi ada voucher promonya setengah harga jadi nggak sampai 600rb/malam untuk kamar Deluxe nya.
*emak irit (tadinya) senang eh belakangan sering banget di emailin promo kamarnya mereka di harga segitu juga*

Pas sampai, agak kecewa deh karena kamar masih diberesin dan disaranin jalan-jalan dulu aja nanti ditelpon kalo kamarnya udah siap kurleb sejam kemudian. Akhirnya ngetem lah kami di McD Setiabudi. Sampai jam 4 lewat belum ada kabar juga dari hotel, padahal krucils udah kepengen banget mandi dan leyeh-leyeh main di kamar. Kami juga harus shalat ashar kan. Akhirnya balik aja langsung ke hotel dan itupun masih harus nunggu 10 menitan sampai akhirnya dipandu ke kamar.

Denah hotelnya cukup ngebingungin sih, dari lobby kami naik lift dulu ke lantai satu trus jalan ke arah restoran sekitar 30m di lantai 2 lalu naik lift lagi ke lantai 3. Sampai di kamar, capek dan sedikit bete sebelumnya cukup terbayarkan karena kamarnya yang luas dan nyaman. Kurangnya cuma gak bisa nitip minuman dingin di mini bar karena ternyata nggak ada, hihi. Oh, dan juga penerangan di koridor kurang terang jadi kesannya suram.

image

Deluxe room yang spacious dan cozy

Breakfast was okay. Cukup variatif lah tapi IMO rasa terbilang biasa aja. Kelar sarapan langsung berangkat ke pusat sepatu murah nan heits: Cibaduyut!

Memasuki Grutty, salah satu toko yang kabarnya terlengkap dan terbesar di kawasan itu, mata udah langsung jelalatan ke sana kemari cari sepatu & sandal untuk diadopsi. Suami berakhir dengan beli sepatu kulit baru yang paling mahal diantara kami berempat. Tapi masih dibawah 300ribu sih, jadi itungannya masih murah ya kan? Saya cukup happy nenteng dua pasang sandal seharga total 90ribu aja. Sementara dua anak kecil itu dapat sepatu masing-masing cuma 30ribu aja dong 😀

Puas belanja dan cuci mata di Cibaduyut, perhentian selanjutnya ke… Paris Van Java.

Yeah, I know.. kesannya kok bosen banget ya mosok udah jauh-jauh ke Bandung mentoknya ke mal lagi. Barangkali ada yang belum tahu, di rooftop salah satu mal ter-heits se Bandung itu ada sarana rekreasi keluarga juga lho.

Lactasari Mini Farm, peternakan mini di PVJ ini kabarnya udah ada sejak Agustus 2011. Versi mininya dari peternakan aslinya di daerah Padalarang sana. Cukup dengan HTM 50ribu/anak yang langsung ditukar dengan sekeranjang sayuran dan sebotol susu, anak-anak bisa merasakan kasih makan hewan kayak kelinci, kambing dan domba. Pulangnya masih dapat free susu segar asli produksi mereka pula. Detailnya bisa baca di sini.

image

Lactasari Farm, Paris Van Java

Selain Mini Farm ini ada juga taman dan arena bermain ice skating. Alea sempat nyoba belajar ditemani pelatih selama setengah jam, dan setelahnya sempet nangis karena nyoba meluncur dan… jatuh. Hahaha. Kayaknya udah nggak sabaran pengen meluncur padahal belum bisa.

Kelar maksi dan take away penganan buat malam nanti, balik ke hotel deh dan ajak anak-anak berenang sore. Saya sempat kecele waktu liat ada snack corner di pinggir pool, kirain compliment taunya mbayar 10ribuan buat popcorn dan juicenya. Huahaha. Kamseu daaah..

*tutup muka pake jilbab*

image

Oya, besoknya sebelum check out anak-anak sempat main di so-called playground hotel yang rada seadanya, yang ada di samping lobby dan di dekat parkiran. Saya cukup waswas mikir kalo ada anak ngeluyur ke parkiran dan pas ada mobil lewat deh*parnoan*

image

Jadi, begitulah kami menghabiskan libur tahun baru. Semoga nggak peduli kemanapun kita pergi asal dengan kumpul sama-sama tanpa kurang suatu apapun juga kalian tetap happy yaa, Nak. Insya Allah next time bisa liburan lebih lama lagi dan ke tempat-tempat yang jauh lebih seru lagi yaa 😀