Resolution Revolution

Sekali-kali mainstream aah, posting pertama di hari pertama tahun 2015. Biar kayak blogger beneran, gitu :p

Mau flash back sedikit soal setahun kemarin. Banyak sekali berkah Allah SWT buat keluarga kami. Baik yang berupa rejeki, keluarga yang baik, teman baru dan terutama kesehatan. Di tahun ini juga akhirnya kami kesampaian punya sesuatu yang udah diidamkan sejak lama. Alhamdulillah… Alhamdulillah.

Bersyukur banget masih dikasih umur, dikasih sehat dan dikasih kesempatan kumpul bareng keluarga tercinta di momen pergantian tahun ini. Biasanya memang cukup di rumah aja (baca: tidur, LOL) dan nggak pernah keluar atau bikin acara spesial. Tapi tahun ini mumpung masih liburan sekolah kami putusin nginep di rumah bulik saya, sekalian tiup lilin om nya anak-anak yang pas 31 Des genap 23 tahun. Wow, masih panjang perjalananmu Om!

Awal tahun sebenarnya selalu datang dengan perasaan yang nggak melulu happy sih. Tiap 1 Januari datang dengan kenyataan pahit bahwa orang yang paling penting dalam hidup saya nggak ada di sini.

Today would have been your 58th birthday, Bapak. It’s been 8 years and not a single day goes by without me thinking of you.

*al fatihah*

Gimana resolusi tahun lalu? Can’t say much, tapi yang jelas #menujulangsing mah bisa dibilang gagal πŸ˜€ *gimana mo langsing wong hobinya makan*
Jadi itu masih PR besar buat tahun ini. Cuma nggak mau ditulis sebagai resolusi ah, takut gak kesampaian dan bikin malu kalo ujungnya cuma jadi resolusi thok’ selama bertahun tahun 😝

β€’ Lebih Rajin Nulis
Niatnya ngeblog kan supaya jadi media pencatatan milestone anak dan keluarga, tapi boleh juga dong saya nebeng nulis ocehan maupun pikiran nggak jelas di blog aja, paling nggak lebih produktif ketimbang ngerjain atau mikirin hal-hal yang nggak penting hehe.

β€’ Lebih Hemat, Rajin Nabung dan Nambah RD
Tahun ini si kakak mau SD dan si adik masuk TK, kalo nggak pinter pinter ngatur anggaran keluarga gimana bisa ngebiayain cita cita ambil spesialisasi dokter anak kelak, ya kan?

β€’ Renovasi Rumah
Ini cita cita yang tertunda lama, karena biayanya juga nggak sedikit. Kepingin mindahin kamar, besarin dapur, nambah ruang depan, nambah lantai atas, bla bla bla *lho kok banyak?*
Mudah2an tahun ini ada rejekinya. Aaamiin.

β€’ Liburan
Kalo selama ini paling anak-anak seringnya diajak ke Bandung lagi.. Bandung lagi, pingin deh suatu saat ajak mereka liburan (agak lama) ke Yogya atau Malang. Semoga tahun ini kesampaian.

β€’ Pengen Ibadah Lebih Baik
Nggak cuma sekadar sholat tepat waktu, kepingin rutin lagi puasa sunnah dan belajar mengaji yang baik dan benar.

β€’ Belajar Ikhlas
Memberi tanpa mengungkit, memberi tanpa mempertanyakan. Disakiti tanpa balas memaki apalagi mendendam. Dan yang paling penting sih sebisa mungkin tetap menjaga hubungan baik, meski berat.

Segitu aja sih kayaknya, semoga tahun 2015 ini membawa banyak berkah dan kebahagian bagi kita dan orang2 yang ada di sekeliling kita yaa.

Have a wonderful years ahead, guys!

Euforia Mudik

Istilah mudik yang katanya lahir dari bahasa Jawa “mulih dhisik” yang artinya “pulang dulu”, adalah kegiatan perantau / pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Biasanya memanfatkan momen hari raya lebaran yang disediakan pemerintah libur cukup panjang. Entah sejak kapan tradisi mudik ini ada, yang pasti sudah pemandangan umum jelang lebaran berbagai stasiun TV serentak kasih laporan aktifitas para pemudik pulang ke kampung halaman dengan berbagai moda transportasi.

Saya sendiri bukan dari keluarga yang biasa dengan tradisi mudik lebaran. Karena Alm.Bapak (dan beberapa om) bertugas di kepolisian jadi nggak memungkinkan untuk mudik di hari lebaran. Jadi biasanya mudik justru sebelum puasa untuk nyekar alias ziarah, tapi momennya tentu aja beda karena nggak seramai di hari raya.

Sampai kami sempat tinggal di Palembang di 2011, akhirnya ngerasain juga yang namanya mudik lebaran. Berburu tiket pesawat 2-3 bulan sebelumnya. Berjam-jam menempuh jalan darat dari Muara Enim, menginap semalam di Palembang untuk terbang esok harinya ke Jakarta.

Sekarang udah stay lagi di Jakarta, kami punya rute mudik baru ke kampung halaman suami di Ciamis, karena sudah 2 tahun ini mertua dan adik bungsunya sekarang tinggal di sana. Rute yang normalnya bisa ditempuh 6 jam bisa molor sampai nyaris 2x lipatnya kala lebaran.

Soal mudik ini memang sering mengundang tanda tanya bahkan ada yang nyinyir, kenapa sih banyak yang ‘maksa’ mudik jarak jauh pakai motor? Kenapa rela bermacet-macet berjam-jam bahkan berhari-hari lewat jalan darat? Kenapa rela berdesakan di kereta/bus yang pengap? Kenapa sampai rela membahayakan nyawa demi kumpul dengan keluarga?

image

Status Path suami yang bisa pas bener dengan postingan ini

Sementara bagi sebagian orang fenomena mudik adalah sebuah euforia pemborosan waktu tenaga dan uang, bagi yang merasakan harus hidup & kerja jauh dari keluarga dan sanak saudara mudik di hari raya adalah momen tak ternilai dimana bisa berkumpul lagi dengan keluarga besar sambil bertukar cerita dan berbagi sedikit rezeki.

Bagi yang mudik, ingat untuk stay safe dan jaga kondisi. Apalagi yang lewat jalan darat, patuhi lalin dan jangan malas istirahat sejenak kalo dirasa badan sudah lelah! Keselamatan jauh lebih penting ketimbang yang lain. Insya Allah segalanya dimudahkan apalagi niat kita baik untuk bersilaturahmi ke orang tua & sanak saudara.

Buat yang masih nggak ngerti kenapa sebegitunya orang-orang berbondong-bondong mudik, coba pahamilah ini saja: kita nggak akan pernah tau berapa lama lagi kita ada umur untuk bisa ketemu keluarga. Mereka hanya mencoba memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Bisakah sedikit berempati?

Selamat Mudik πŸ™‚

Twist and Turns

Ada yang bilang, alur kehidupan manusia itu tuh kayak roda. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang lancar berputar, kadang harus jalan tersendat karena jalannya berbatu dan penuh liku. Dan kadang (terpaksa) harus berhenti sejenak hingga waktunya bisa jalan lagi.

And this is it.
The end of something good and (hopefully) the beginning of something better…

Soon.

Saat ini jadi salah satu momen yang ‘nggak ngenakin’ di kehidupan kami. Ibarat riak dari batu yang dilempar ke kolam air yang tenang. Datang tak terduga, tanpa disangka. Terhenyak dan takut akan entah kayak apa yang menanti didepan, tentu saja. Apa airnya akan kembali tenang, atau akan datang ombak lebih besar lagi.

Seperti mbak Stephanie Meyer bilang, “Without the dark, we’d never see the stars”

Pasti ada hikmah dan pelajaran dari semua ini, bagian dari rencana baik Tuhan untuk umatnya. Bagian dari ujian naik kelas ke posisi yang lebih tinggi.

“It’s just a bad day(s), not a bad life”.

Inshaa Allah, good day is just around the corner πŸ˜‰

image

Life is a wilderness of twists and turns, where faith is your only compass.

–Β Paul Santaguida

Nge Blog, buat apa dan siapa?

*Ide postingan random yang udah berminggu-minggu nongkrong di draft, akhirnyaaaa.. punya keinginan kuat buat ngelarin juga* *kemudian tumpengan*

Perkenalan awal saya sama dunia per blogger an, kalo nggak salah sekitar awal tahun 2005 an, di blogspot. Itu pun nggak aktif dan isi postingan cuma berupa puisi-puisi norak yang entah kenapa kok saya mau publish di dunia maya, haha. Apa mungkin karna waktu itu lagi galau-galaunya diantara dua pilihan? Bisa jadi. Gak usah tanya nama blognya ya, lupa πŸ˜€

Sampai akhirnya nikah, sibuk kerja, trus waktu dan pikiran juga banyak tercurah pada alm. Bapak saya yang kala itu sakit keras, hobi iseng2 yang satu itu terbengkalai. Sampai akhirnya beliau berpulang, saya coba menyibukkan diri setelah itu, termasuk buat online shop buku2 baru & bekas, juga akhirnya bikin blog pribadi beneran di Multiply.

Awalnya saya beranggapan blog pribadi itu ya cuma semacam diary jurnal keseharian pleus pelepasan pemikiran di kepala aja, tapi ternyata bisa menambah teman juga. Makanya sedih bener pas akhirnya Multiply nutup fasilitas blogging dan akhirnya april kemarin beneran tutup. Sayang bener deh karena sama sekali nggak bisa nyelamatin apa-apa yang ditulis disana. Kehilangan media pengingat momen yang berarti waktu jadi blogger newbie, dan rasa yang membuncah kala ada yang mampir meninggalkan jejak hingga akhirnya lanjut berteman hingga kini.

Saya memang kurang telaten ‘mengabadikan’ cerita tentang suami dan anak-anak atau tentang pemikiran2 random sendiri, karena ya….. jujur nih, kadang saya suka takut ‘kebablasan’. Takut kalo apa-apa yang saya tulis sebetulnya bisa jadi aib buat diri saya sendiri dan keluarga, takut nyinggung perasaan orang… sampai takut dinilai bikin postingan yang nggak penting alias cuma nyampah doang. Ribet bener ya, sampe mikir kemana2. Maklum Virgo, hihi. *teu nyambung*

Tapiiii.. kalo dipikir2 lagi, apa sih tujuan awalnya kita (maksudnya saya) ngeblog? Mau berekspresi, atau semata demi menyenangkan pembaca?
Jawabannya tentu subyektif bagi masing-masing orang sih ya, kalo saya sih.. niatnya sebagai stress-release, media ‘pencatat’ momen penting, plus bisa nambah teman.

Seperti halnya apapun yang kita lakukan, ngeblog juga ada etikanya ya, sodara-sodara. Meski blog itu punya kita (dan kita selalu bisa nulis apa aja), harusnya sih nggak lupa untuk memikirkan dari sisi orang lain yang baca. Sebisa mungkin jangan sampai menyinggung, copas tulisan tanpa ijin, buka aib sendiri apalagi orang.. hal-hal yang nggak banget deh! *note to self*
Kayak yang pernah saya share di sini, sekali di publish, tulisan di blog akan selalu bisa dibaca siapapun, kapanpun. (Well, mungkin terkecuali yang di set private ya).

Kalo menurut teman-teman sendiri, gimana? πŸ˜‰

image

Gambar dari sini

Bittersweet Moment

Buat para ibu rumah tangga yang handle semuanya sendiri, tau sendiri kan jenuh dan stress nya gimana. Ditambah anak sakit, yang kadang rewelnya sampe nggak mau lepas dari ketiak emaknya. Mau pipis dengan tenang aja nggak lepas dari acara ditangisin didepan kamar mandi πŸ˜€

Pengennya sih kepala dan hati tetap adem. Tapi kadang kalo lagi capek gitu kok ya susah bener ya.

Minggu lalu, cobaan (yang memang nggak seberapa) datang silih berganti. Duo gadis gantian sakit, dan suami jatuh dari motor ngehindarin lubang di jalan pas mau ke kantor. Sumpah hati langsung mencelos pas denger kabar itu. Untungnya nggak ada luka/cedera berarti.

*elus dada sampe rata*

image

Kala butuh sesuatu yang bisa bikin saya ‘waras’ lagi, saya lari deh ke dunia socmed. Bukan, bukan untuk berbagi kegalauan. Tapi sekedar pengen tau apa yang terjadi di dunia luar. Mengalihkan fokus sejenak ke hal lain.

Tapi memang Allah maha baik, tau banget hambanya lagi butuh mood booster.

Pas cek timeline twitter kelar nyuapin Alea yang lagi demam karena radang tenggorokan, pas lagi ada kuis Fashionesedaily bareng Panasonic. Iseng aja ikutan. Hasilnya, jrengg.. saya menang! Hadiahnya kamera Panasonic Lumix DMC FT20 yang bisa foto bawah air sampai kedalaman 5 meter! *alhamduuu…lillaah*

image

Hari Minggu nya, gantian handle Alika yang udah 2 hari super cranky karena demam+batpil, kembali iseng ikutan kuis @MomsGuideID yang hadiahnya financial check up gratis dari team Ardana Consulting. Eeeh.. menang lagi!

Aah.. Bener-bener bittersweet moment :’)

Jadi malu deh kalo ngeluh melulu, mending cari kuis aja ya kan πŸ˜€


*ngubek-ngubek blog orang demi cari giveaway*

Becanda Yang Menyinggung

Malam ini, pas lagi iseng cek fesbuk, yang udah jaraaang banget saya buka saking banyaknya yang berstatus2 motivasi MLM maupun jualan… tau-tau muncul friend request dari sebuah nama yang familiar. Eh iya bener, ini si R temen akrab saya kala SMP.

*klik approve*

Rupanya dia di seberang sana juga lagi online, nggak lama langsung muncul message di inbox saya.

“Duilee yang udah jadi ibu-ibu PKK, udah lupa sama sobat lama”

*ngrenyit*

“Ya nggak lah, buktinya langsung di approve kan. Apa kabar?”

“Baik cuy, btw buntut lo udah 2?”

“Iyaa, nih. Lo sendiri gimana? Anakmu brp?”

“Anak gue baru 1. Tapi blaa.. bla.. bla… Btw makin tua aja dong lo, hahaha”

*hening*
Udah mulai agak males njawabnya nihh..

“Masih tuaan lo kali..”Β 
*saya tau (dan dia pun tau) betul dia setahun diatas saya*

“Eittss, gue mah awet muda selalu cuy..”

“Ya dehh…”

Setelah itu berlanjut obrolan yang nggak seru sama sekali, karena saya udah kehilangan interest bertanya kabarnya lebih jauh.

Dia seakan lupa nama saya dan terus-terusan manggil ‘cuy’. Lalu ngeluarin joke2 yang mungkin masih ok kalo dilontarkan pas kami masih SMA atau kuliah, tapi setelah lebih dari 15 tahun nggak pernah kontak apalagi ketemu kayaknya kok rada malesin ya. Apalagi udah sama-sama jadi orang tua gini. Ya nggak sih?

Bercanda kan nggak mesti yang menghina dong?

Apa saya nya aja yang lagi sensitip? *jangan disodorin tespek beneran ya* πŸ˜€

image

Nasehat Suami Untuk Istri

Sebenarnya saya bukan termasuk tipe orang rumahan, saya jauh lebih suka beraktifitas di luar rumah. Menikmati status sebagai wanita bekerja nan mandiri, sekaligus ajang mengaktualisasikan diri dan bersosialisasi.

Tapi yang namanya hidup, tentunya nggak melulu lancar seperti jalan tol bukan?

Pas setelah kelar cuti melahirkan anak pertama, dilema pun dimulai. Masalahnya saya susah banget dapet pengasuh yang awet untuk Alea. Pernah suatu waktu Alea seharian saya titip ke tetangga, saking nggak tau musti minta tolong kemana lagi.

Mau ijin, kondisi nggak memungkinkan saat itu karena pekerjaan saya di kantor lagi dikejar deadline. Titip Alea di daycare dekat kantor kami berdua di bilangan Sudirman, biaya per harinya aja cukup mahal untuk ukuran kami waktu itu. Beberapa kali minta tolong mertua, tapi saat itu beliau sedang mudik. Lagipula nggak enak juga minta tolong jaga anak bayi sendirian aja, sedangkan beliau juga sudah cukup berumur.

Pekerjaan saya sebagai assisten produksi majalah kadang loadnya juga bikin stress dan nggak kenal waktu, apalagi kalo mendekati deadline dan mau naik cetak. Tengah malam pun masih mantau editing supaya hasilnya baik dan sesuai instruksi para boss. BB nggak bisa jauh dari tangan.

Kadang jadi sedih dan merasa bersalah juga sama Alea, waktunya quality time ibu dan anak pun masih terganggu urusan kantor. Saya beberapa kali kepikiran untuk resign, suami mendukung. Tapi saya selalu ragu-ragu. Hingga jelang setahun setelah Alea lahir, agenda resign itu kembali muncul saat lagi-lagi pengasuh Alea berhenti.

Saya sempat bingung harus gimana lagi. Di satu sisi saya merasa inilah saatnya saya menjadi orangtua sesungguhnya buat anak saya, memantau setiap perkembangannya, hadir menenangkan setiap tangisannya. Di lain sisi saya juga ingin berperan membantu keuangan keluarga.

Yang menguatkan saya kemudian adalah kata-kata suami kala itu..

“Jangan tukar yang sedikit itu dengan harta yang jauh lebih berharga. Mencari nafkah itu sudah kewajibanku, biarlah jadi urusanku. Yakin Allah akan cukupkan rizki untuk kita. Kamu cukup mensupport dengan menjaga anak kita sehingga aku bisa berangkat kerja dengan tenang, karena aku tahu dia ada di tangan terbaik. Ibunya sendiri.”

Atas ridho suami itulah, akhirnya saya mantap melayangkan surat pengunduran diri setelah itu. Mungkin jadi hari yang terindah, karena rasanya kayak seluruh beban terangkat dari dada. Keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Memang kami harus sedikit prihatin dan beradaptasi pada awalnya. Tapi terbukti kata-kata suami benar, Allah SWT pastikan rizki yang cukup bagi kami sekeluarga. Alhamdulillah kehidupan kami sekarang jauh lebih baik.

Ada kalanya saat rasa jenuh akan rutinitas domestik melanda, suami kembali menguatkan dengan kata kata yang menyejukkan, dan mengingatkan untuk berusaha ikhlas. Meski mungkin bukan secara materi, sedikit banyak saya tetap berperan atas keberhasilan pekerjaan suami di kantor. Dengan membantu menciptakan lingkungan kondusif di rumah supaya dia bisa fokus bekerja, memastikan anak-anak terpenuhi kebutuhannya terutama dari segi moril. Dan ini juga ibadah, bukan? πŸ™‚

Seperti kutipan yang saya baca entah dimana, kita punya seumur hidup untuk mengejar mimpi, sedangkan mereka hanya jadi anak-anak sebentar saja.

image

Saya masih punya mimpi untuk bekerja lagi entah kapan, mungkin mau usaha kecil-kecilan atau jadi freelancer supaya masih bisa punya waktu luang untuk anak-anak. Doakan ya.

** Postingan ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam

*berdoa khusyuk semoga menang πŸ˜€