Cerita Lebaran

Halo semuaaa… Apa kabar? *muncul dari dalam gua*

Masih suasana Idul Fitri kan ya. Dari lubuk hati terdalam, mohon dimaafkan segala salah dan khilaf ya, Taqobbalallahu Minna wa Minkum wa Shiyamana wa Shiyamakuum.

Lebaran kemarin kemana aja?

Agenda hari pertama Idul Fitri sejak awal nikah sih biasanya silaturahmi ke Mertua sehabis shalat Ied baru siangnya ke keluarga saya. Cuma 2 tahun ini rutenya berubah karena sejak awal 2013 Mertua pindah ke Ciamis, jadi hari pertama Lebaran kami di Jakarta dulu baru besoknya mudik ke Ciamis.

Lebaran kali ini halal bihalal keluarga saya bertempat di rumah salah satu Om di daerah Serpong. Biasanya Om yang di Bekasi yang jadi tuan rumah, cuma tahun ini skip dulu karena lagi ditinggal anaknya yang lagi dapat beasiswa UI untuk short course di Belgia.

Enaknya tradisi kumpul keluarga besar kayak gini adalah semua anggota keluarga baik yang di tengah kota atau pinggiran (macam saya) kumpul di satu tempat jadi nggak repot wira wiri ke rumah masing-masing lagi kan. Lebih irit tenaga & bensin tapi juga kan lebih rame, hehe.

image

Narsis berdua, anaknya malah sibuk sendiri

Oya, selama nyaris 9 tahun menikah seinget saya baru sekali punya baju Lebaran seragaman sama suami deh, sama anak-anak malah belum pernah. Maklum saya mah anti ribet orangnya, nggak terlalu nafsu jahitin baju atau pesen khusus baju spesial untuk sekeluarga. Padahal mah jujur pengen, hahaa.. Cuma ya seringnya seketemunya yang harganya cocok aja.

Trus satu lagi, saking sibuknya silaturahmi dan makan makanan Lebaran, suka nyesel kenapa selalu kelupaan untuk nggak foto sekeluarga trus posting di semua socmed kayak keluarga masa kini. Kan lumayan buat kenang-kenangan dan pembanding berat badan dari tahun ke tahun ya 😀 *eh*

Hari kedua Lebaran, saatnya menuju kampung halaman suami di Ciamis. Jam 2.30 pagi saya dan suami kompak bangun, mandi pagi lalu langsung boyong anak-anak masuk mobil. Berharap semakin awal kita berangkat, nggak terlalu macet pula di jalan kan. Jam 5 lewat akhirnya sampai di Rest Area 147 Tol Padaleunyi, sholat subuh dan beli sarapan untuk dijalan. Ternyata keluar rest area udah macet panjang sampai exit tol. Mungkin imbas pemudik yang biasa lewat jalur pantura jadi putar haluan lewat selatan karena ada jembatan ambles. Alhamdulillah perjalanan jauh dan macet berat begitu krucils nggak ada yang cranky apalagi muntah selama perjalanan. Jam 4 sore akhirnya sampai Ciamis. Total jendral 12 jam, yang normalnya cuma separohnya 😀 *elus elus bujur*

Besoknya selain silaturahmi ke saudara-saudara suami juga sorenya sempat main-main ke alun-alun bareng Eninnya anak-anak. Setiap sore apalagi hari libur, tempat ini nyaris nggak pernah sepi dari berbagai permainan anak dan pedagang kaki lima. Tipsnya jangan datang terlalu sore apalagi malam, bisa bisa harus parkir di pinggir jalan saking penuhnya.

Begitu sampai, anak-anak langsung rikues naik becak cinta. Becak cinta ini kalo malam ramai sama lampu warna warni lho, cantik deh. Bisa pilih, keliling alun-alun digowesin abangnya dengan tarif 20 ribu atau cukup 10 ribu tapi gowes sendiri. Tentunya pilih yang pertama! Hahaa. Kita udah kapok deh sok-sokan gowes sendiri dengan alasan biar irit, setelahnya ngos-ngosan karena meski alun-alun nggak seberapa besar tapi ya tetep aja ternyata capek banget, jendral! 😀 😀

image

Naik becak cinta, main layangan, naik delman domba

Ada satu lagi yang jadi favorit anak-anak di sana, namanya deldom alias delman domba. Yang ini khusus anak-anak aja, karena eh.. karena.. kasian mosok dia harus menanggung berat badan orang dewasa juga, emangnya nggak cukup dia menanggung beban perasaan harus jadi pengganti kuda? *krik krikk*

Sambil nungguin krucils main, nggak lupa ngemil-ngemil cantik. Beli cilok yang disiram bumbu kacang, pas bener buat cemilan sambil menikmati suasana sore di alun-alun.

Pulang dari sana, mampirlah ke salah satu kuliner terkenal di Ciamis yaitu mie gelosor di Warung Baso AGA H. Oding, sekitar 500m dari alun-alun. Kalo menurut lidah saya sih yaa, mienya mirip-mirip lah sama bihun, cuma ini selain warnanya yang kuning (dari tepung tapioka), teksturnya lebih kenyal dan agak tebal sedikit dari bihun. Katanya nih kenapa namanya mie gelosor, karena pas dimakan si mienya itu gelosor-gelosor alias licin. Hahaha.
Yang unik, pelengkapnya selain sambel bawang juga pakai acar mentimun, beuh seger! Baksonya sendiri juga termasuk kecil kecil jadi rasanya pas aja porsinya. Nggak bikin begah. Semangkuk mie baso gelosor harganya 13 ribu rupiah aja.

Kalau mau tambahan pelengkap baso ada sayap ayam dan babat juga, cuma kemarin itu saya nggak coba.

image

Diambil dari diciamis.com

Sebelum pulang, nggak lupa beli buah tangan dulu di Pusat Oleh Oleh Suka Senang, di Km 6 Jalan Raya Ciamis-Banjar. Industri rumahan yang cukup besar di Ciamis karena produknya yang enak dan bermutu baik, juga nggak mahal. Produk utamanya berbahan dasar pisang, diolah jadi keripik dan sale dengan berbagai rasa dan jenis. Sale tetap dibaca sale, bukan berarti dibaca diskon yah 😀 Mereka juga jual galendo, chocodot, seroja (yang mirip kembang goyang betawi tapi rasanya gurih) dan banyak lagi makanan khas Ciamis lainnya.

Besoknya dalam perjalanan kembali ke Jakarta (padahal ktp domisili Depok tapi kenapa lebih enak nyebut Jakarta ketimbang Depok ya?), kami mampir ke Rumah Makan Cibiuk di daerah Limbangan, Garut. Rejeki banget karena saat itu jam makan siang, dan alhamdulillah nggak penuh.

image

Asik lihat ikan sambil nunggu makanan dianter

Selain konsep ruang makan dengan meja dan kursi di depan, ada juga tempat di saung diatas kolam ikan dan bersebelahan dengan mini playground. Juga ada sentra oleh-oleh di dalamnya.

Oya di sini sambal sifatnya bukan complimentary macam di rumah makan lain, jadi harus pesan lagi. Tapi so far nggak mengecewakan kok. Makanannya enak, servicenya lumayan cepat, musholla dan toiletnya pun bersih. Krucils bahkan numpang mandi sebelum pulang.

image

Makan enak dulu setelah 7 jam perjalanan

Makan berempat dengan menu ayam bambu, tumis genjer oncom, ayam bakar, ikan bawal goreng, tahu kipas, es kelapa, teh manis dan sambal cibiuk seinget saya nggak sampai 200 ribu. Masih cukup wajar lah.

Enaknya mudik lewat jalur selatan itu memang pilihan rumah makannya banyak, tempat dan makanannya enak-enak. Next time mau coba the most recommended resto Pak Asep Stroberi ah, katanya selain tempatnya nyaman & asri banget, banyak permainan anak-anak, juga bisa belajar bikin keramik lho *kemudian berkhayal jadi Demi Moore di film Ghost*

Jadi,… Itu cerita Lebaran ku, apa ceritamu? 😉

Advertisements

Euforia Mudik

Istilah mudik yang katanya lahir dari bahasa Jawa “mulih dhisik” yang artinya “pulang dulu”, adalah kegiatan perantau / pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Biasanya memanfatkan momen hari raya lebaran yang disediakan pemerintah libur cukup panjang. Entah sejak kapan tradisi mudik ini ada, yang pasti sudah pemandangan umum jelang lebaran berbagai stasiun TV serentak kasih laporan aktifitas para pemudik pulang ke kampung halaman dengan berbagai moda transportasi.

Saya sendiri bukan dari keluarga yang biasa dengan tradisi mudik lebaran. Karena Alm.Bapak (dan beberapa om) bertugas di kepolisian jadi nggak memungkinkan untuk mudik di hari lebaran. Jadi biasanya mudik justru sebelum puasa untuk nyekar alias ziarah, tapi momennya tentu aja beda karena nggak seramai di hari raya.

Sampai kami sempat tinggal di Palembang di 2011, akhirnya ngerasain juga yang namanya mudik lebaran. Berburu tiket pesawat 2-3 bulan sebelumnya. Berjam-jam menempuh jalan darat dari Muara Enim, menginap semalam di Palembang untuk terbang esok harinya ke Jakarta.

Sekarang udah stay lagi di Jakarta, kami punya rute mudik baru ke kampung halaman suami di Ciamis, karena sudah 2 tahun ini mertua dan adik bungsunya sekarang tinggal di sana. Rute yang normalnya bisa ditempuh 6 jam bisa molor sampai nyaris 2x lipatnya kala lebaran.

Soal mudik ini memang sering mengundang tanda tanya bahkan ada yang nyinyir, kenapa sih banyak yang ‘maksa’ mudik jarak jauh pakai motor? Kenapa rela bermacet-macet berjam-jam bahkan berhari-hari lewat jalan darat? Kenapa rela berdesakan di kereta/bus yang pengap? Kenapa sampai rela membahayakan nyawa demi kumpul dengan keluarga?

image

Status Path suami yang bisa pas bener dengan postingan ini

Sementara bagi sebagian orang fenomena mudik adalah sebuah euforia pemborosan waktu tenaga dan uang, bagi yang merasakan harus hidup & kerja jauh dari keluarga dan sanak saudara mudik di hari raya adalah momen tak ternilai dimana bisa berkumpul lagi dengan keluarga besar sambil bertukar cerita dan berbagi sedikit rezeki.

Bagi yang mudik, ingat untuk stay safe dan jaga kondisi. Apalagi yang lewat jalan darat, patuhi lalin dan jangan malas istirahat sejenak kalo dirasa badan sudah lelah! Keselamatan jauh lebih penting ketimbang yang lain. Insya Allah segalanya dimudahkan apalagi niat kita baik untuk bersilaturahmi ke orang tua & sanak saudara.

Buat yang masih nggak ngerti kenapa sebegitunya orang-orang berbondong-bondong mudik, coba pahamilah ini saja: kita nggak akan pernah tau berapa lama lagi kita ada umur untuk bisa ketemu keluarga. Mereka hanya mencoba memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Bisakah sedikit berempati?

Selamat Mudik 🙂